The first story ni, lagi pengen nulis cerpen. Semoga bermanfaat ya :) selamat membaca teman-teman:)
Sebagai seorang siswi Sekolah Mengengah Pertama sudah seharusnya aku berangkat pagi senin ini, bersiap menjelajah dunia dengan ilmu di sekolah. Bagaimana tidak? Teori seorang tokoh yang berasal dari bumi Eropa sana bisa aku pelajari dengan bersekolah. seperti biasa mobil angkot yang aku tumpangi melewati jalan-jalan yang mengantarkanku pada gerbang sekolah. Aku anggap saja perjalanan ini sebagai santapan sebelum bergelut dengan pelajaran di sekolah. Selalu ada citcitcuit suara burung yang berorkestra dengan klakson-klakson kendaraan di jalanan. Belum lagi suguhan musisi jalanan yang membuat pagi semakin ramai disetiap perempatan jalan. Santapan yang nikmat. Tak peduli apa pendapat kalian, tapi menurutku begitu.
Aku sampai pada gerbang sekolah, kulihat teman-temanku yang aku kenal dan yang tidak kukenal masuk ke gerbang sekolah. Begitu pun dengan adik-adik kelasku yang kukenal maupun yang tak kukenal. Aku terlalu baper (bawa perasaan) pagi ini melihat mereka yang diantarkan oleh bapak mereka ke sekolah, menciumi tangannya seraya meminta do’a dan semangat darinya, sedih rasanya. Kadang aku berfikir, bolehkah aku merasa iri? Pada mereka yang masih bisa menciumi tangan Bapaknya. Maaf, tapi kurasa ini bukan iri. Hanya rinduku saja pada bapak.
***
“Tari, bagaimana ibumu sudah sehat?” tanya salah seorang teman padaku sambil mendudukan dirinya di bangku sebelahku.
“masih harus dirawat, malah katanya kalo begini terus harus masuk ruang ICU.” Jawabku. Temanku yang bernama Nanda ini merangkulku mengisyaratkan aku untuk terus bersabar. Aku tahu aku harus tetap sabar dan fokus terhadap belajarku, apalagi akhir-akhir ini disibukkan dengan persiapan Ujian Nasional. Terimakasih Nanda.
***
Pukul 13.00 siang, aku pulang. Bukan ke rumah melainkan ke rumah sakit tempat ibu dirawat. Ya, sudah hampir sepuluh hari ini ibu terbaring di sana. Berikhtiar agar Allah mengangkat penyakitnya yang sudah semakin parah. Selalu begini , aku menggantikan kakakku di sana menjaga ibu. Karena kakak harus belajar juga di kampusnya. Kasian kakak, kadang dia harus merelakan jam mata kuliah yang terbuang karena tak ada lagi yang bisa meluangkan waktunya untuk menjaga ibu kami. Tapi tak apa-apa, katanya, dia ikhlas.
Aku berjalan menaiki anak tangga yang mengarah pada lantai dua, lalu menyusuri koridor menuju kamar tempat ibu dirawat. Kulihat kakak sudah di depan pintu, menunggu kehadiranku untuk menggantikannya.
“sudah makan belum? Kakak taro roti di meja. Dimakan ya. Kakak berangkat dulu. Assalamu’alaikum.” Katanya sambil tersenyum padaku. Lalu dia meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu. Selamat belajar calon jurnalis muslimah, kataku dalam hati. Wa’alaikumussalam , juga kataku dalam hati.
Aku masuk ke kamar, kulihat ibu tertidur dengan selang oksigen yang masih terpasang, juga alat infusan. aku melakukan sisa kegiatanku di sana. Mengerjakan tugas, makan, dan sholat. Kakak juga , sepulang kuliah dia kembali ke sini, bukan untuk menggantikanku lagi, tapi sama-sama menjaga ibu di sini. Kami kembali ke rumah hanya untuk mandi, berganti pakaian, ya itupun bergantian. Begini setiap hari.
Kadang, saat aku mendapatkan kesepatan untuk tinggal di rumah semalam, aku hanya bisa melamunkan nasibku. Sepuluh tahun lalu bapak meninggalkan kita, meninggalkan aku yang masih berusia dua tahun waktu itu karena sakit yang dideritanya. Aku tak pernah tahu Bapak seperti apa, kecuali melihatnya pada foto-foto yang dipajang oleh ibu, ataupun pada album foto yang tersimpan rapi di lemari baca. Aku tak tahu rasanya bagaimana berada dalam pelukan bapak, meski kata orang bapak selalu menggendongku setiap pagi mengelilingi komplek perumahan. Tapi itu kata orang, aku tak tahu persis rasanya. Banyak kisah tentang bapak yang aku dengar dari ibu, kakak, ataupun tetangga dan sanak saudara. Kisah yang sangat baik tentunya, yang membuat aku bangga karena telah menjadi anaknya meskipun belum pernah secara sadar meraskan kehadirannya.
Lalu sekarang, ibu yang menjadi orantua bagi aku dan kakak, terbaring di rumah sakit. Ibu lah yang mengobati rinduku pada bapak selama ini, karena dia lah kekasih bapak. Ibu yang berhasil mengajarkan kebaikan pada kedua putrinya ini. Dia yang melanjutkan perjuangan dan kasih sayang dari bapak, hanya seorang diri. Dia yang membuat kami merasa terlindungi, merasa tak kekurangan sedikitpun perhatian. Aku tak mau kehilangan dia, yang memiliki hati yang luas untuk mencitai anak-anaknya ini. Sungguh saat-saat seperti ini, membuat aku merasa sendiri. Makanya aku selalu suka dengan keramaian di pagi hari daripada harus sendiri begini. Tapi suatu hari di rumah sakit, ibu bilang kita harus sabar, ini bukti cinta Allah pada MakhlukNya, jika kita merasa berat ujian yang kita hadapi dibandingkan oranglain, berarti itu tanda bahwa Allah tahu kita lebih siap dan lebih kuat dari mereka. Kata ibu , ibu dan Bapak hanyalah penerima titipan yang bertugas menjaga aku dan kakak, yang mengenalkan Allah pada kami, yang mengenalkan agama pada kami. Tentang hidup kami, kamilah yang menjalani, beribadah, berbuat baik pada sesama, mendo’akan ibu dan bapak dan lainnya. Itulah kata-kata yang selalu aku ingat untuk menguatkan aku .
Tapi malam ini, aku dan kakak bersama-sama mendo’akan kesembuhan ibu, membacakan do’a-do’a terbaik untuknya. aku menangis dipangkuan kakakku, dia hanya mengelus rambutku. Dia tidak menangis. aku tahu dia hanya ingin tegar di hadapan adiknya, agar aku tidak semakin merasa sedih.
Hari demi hari berlalu, ku lihat keadaan ibu semakin baik. Hanya ini yang sangat membahagiakan untukku saat ini. Belajar di sekolah pun aku jadi tambah semangat , semoga ibu bisa cepat pulang.
Aku menemui ibu di ruang perawatannya selepas sekolah, ibu sedang membaca al-qur’an. Dia tersenyum melihat kedatanganku. Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“bu, minggu depan aku ujian Nasional. Do’akan aku ya supaya dapat nilai terbaik. Nanti kalo pembagian surat kelulusan ibu yang datang mengambil biar tahu hasil usaha belajarku seperti apa hehe, jadi ibu harus sembuh yaa” kataku pada ibu.
“iya sayang, pasti ibu do’akan. Semoga anak ibu bisa melaksanakan ujiannya.” Kata ibu sambil tersenyum. Ah sungguh senyum ini yang akan selalu aku rindukan selamanya.
Hari sudah malam. Seperti biasa di malam jum’at ini aku membacakan surat yasin. Kakak belum datang ke sini, mungkin masih ada urusan di kampusnya. Ibu terbaring sambil mendengarkan lantunan ayat suci yang aku bacakan. Tiba-tiba dia mengerang kesakitan, aku sangat kaget. Aku akhiri bacaan qur’anku lalu bergegas memanggil perawat atau dokter atau siapapun yang ada di sana.
Dokter datang , memasangkan alat jantung. Kulihat garis-garis tanda kehidupan di sana, angka 56. Dokter melakukan apa yang dia bisa. Aku berdiri di samping ibu, menguatkannya meski air mata tak terbendung lagi. Aku pun tak tahu apa yang terjadi. Padahal hari ini dia terlihat lebih baik. Aku mendengar ibu mengucapkan “Allahu Akbar” lalu tiba-tiba alat jantung itu hanya menyisakan garis lurus di layarnya. Sungguh pemandangan yang tak bisa aku jelaskan. Dokter merangkul aku yang semakin menangis melihat ibuku yang sekarang sudah tinggal jasadnya saja. Allah ternyata lebih sayang ibu.
Tiba-tiba kakak datang dengan menangis, mungkin ditelpon oleh pihak rumah sakit. Dia memeluk aku. Lalu berjalan mendekati ibu . mengusap wajahnya, menciuminya. Lalu kami hanya terduduk lemas di kursi sambil menunggu pihak rumah sakit mengurus kepulangan ibu ke rumah kami. Kami hubungi sanak saudara kami tentang berita kepergian ibu.
Esok paginya, rumahku sudah ramai dengan para pelayat dan saudara-saudaraku. Orang-orang memandangi aku dan kakak dengan penuh keprihatinan, memeluk kami, seolah-olah menegarkan kami agar tabah dan sabar
Seusai memandikan dan menyolatkan ibu. Kami menuju pemakaman. Kini ibu sudah terbaring diperistirahatannya. Mengakhiri perjalanannya di dunia. Ku lihat namanya tertanam pada pusaranya. Aku dan kakak masih menangis. orang tua kami satu-satunya kini pergi menyusul Bapak.
Ibu, aku akan rindu semua yang ibu lakukan padaku. Aku dan kakak kini hanya bisa mendo’akanmu. Hanya bisa mengenang. Aku tahu aku ingin ibu cepat pulang ke rumah, tapi Allah sudah terlebih dulu memanggilmu . terimakasih untuk do’a-do’amu yang membuat aku dan kakak menjadi orang yang baik. Ibu, titip rindu buat Bapak.
Tiba-tiba Nanda datang dan memelukku, seolah-olah menegarkan aku. Ya, aku harus tegar. Terimakasih Nanda.
Good. i'm enjoyed read this story.
ReplyDeleteLike it story. Terus nulis ya say :)
ReplyDeleteKeren fajar👍
ReplyDeleteNice, Jar. Nice. :)
ReplyDeleteThanks ;)
Delete