Wednesday, January 20, 2016

Prestasi Cinta


Sore ini udara dingin masuk melalui ventilasi jendela – jendela kelas, rintik hujan bersahutan dengan angin dan petir. Menahan seluruh siswa untuk pulang ke rumah mereka masing – masing. Sambil menunggu hujan reda, Aeni dan dua kawannya, Nuri dan Eca, asik mengobrol tak memperdulikan teman - temannya yang lain yang sedang bernyanyi-nyanyi bersama menyaingi suara hujan. Sebentar – sebentar mereka bertiga tertawa, lalu kembali ribut mengobrol, sesekali berteriak saat ada suara petir menggelegar.
“haha iya katanya di akhir zaman kan jumlah populasi cowo lebih sedikit dari pada populasi cewe, makanya kita harus mengoleksi pacar biar ada stok takut nanti kehabisan” celetuk Nuri diikuti tawa kedua temannya. “ah itu sih kamu saja yang playgirl” timpal Eca. Mendengar obrolan kedua temannya yang konyol itu Aeni hanya menggelengkan kepala.
Rintik – rintik hujan tidak sederas tadi, tanda – tanda hujan akan mulai reda. Di bawah gerimis satu persatu siswa di sekolah membubarkan diri untuk pulang ke rumah. Begitu pula dengan Aeni dan dua temannya. Mereka berjalan ke luar kelas, dan berhenti di depan pintu. “yang bawa payung cuma aku ni?” tanya Eca pada kedua temannya itu.  Aeni dan Nuri mengangguk. Tiba – tiba seorang siswa laki-laki bertubuh tegap menghampiri mereka, dan tersenyum. “hai, Riki” sapa Nuri pada siswa tersebut. Tiba - tiba spontan Aeni berlari  - lari keluar gerbang tanpa memperdulikan dirinya yang basah kehujanan. Riki keheranan. Nuri dan Eca saling berpandangan dan tertawa – tertawa kecil seakan mengerti terhadap sikap Aeni yang aneh. Akhirnya mereka bertiga pun juga melangkah pulang ke rumah masing – masing.
***
Suara senandung memecah malam yang sunyi , Aeni malah sibuk bersenandung, tersipu sambil memandang ke langit – langit kamar. Aroma – aroma kasmaran bersatu dengan aroma musim penghujan yang melembabkan tanah dan dedaunan.  Sudah dua halaman penuh puisi yang ditulisnya. Cinta mampu mengubah rasa menjadi untaian kata yang indah. Begitu pikir Aeni. Ya, cinta yang dia lihat pada senyuman seorang lelaki pujaannya di sekolah sore tadi.
Malam semakin larut, Aeni tidur bersama lembaran – lembaran puisinya. Berharap mimpinya akan seindah apa yang ia tulis dari hatinya. “Inikah yang namanya jatuh cinta, melihat senyumnya saja sampai nervous dan kehujanan” pikir Aeni dalam hati sebelum kantuk mengantarnya pada tidur tadi.
***
Selasa pagi siswa – siswi SMA Budi Bangsa sudah berada di kelas dan siap menerima siraman ilmu dari guru mereka. Termasuk Aeni dan teman – teman sekelasnya. Pelajaran di mulai dengan  mata pelajaran Bahasa Indonesia. Materi yang di bahas oleh ibu guru hari ini adalah mengenai puisi. Aeni sangat tertarik dan fokus terhadap apa yang gurunya sampaikan, tentang apa sebenarnya puisi itu, apa saja jenis – jenisnya, dan juga tokoh – tokoh penting dalam dunia kepuisian. Dia sangat mencintai puisi dan senang menulisnya, makanya dia sangat penuh perhatian terhadap materi hari ini. Apalagi saat sang guru memberitahukan bahwa pemerintah Balai Bahasa Provinsi sedang mengadakan lomba menulis puisi untuk pelajar jenjang SMP, SMA dan se-derajat. “jika diantara kalian ada yang berminat mengikuti lomba ini, daftarkan diri kalian kepada ibu . ibu tunggu hingga besok.” Kata  bu guru menjelaskan. “Aeni , ikutaan aja kamu kan paling jago kalo bikin puisi.” Kata Nuri sambil menyenggol sikut Aeni.  “InsyaAllah, aku ikutan deh hehe” kata Aeni penuh semangat.
Jam pelajaran selesai , dilanjut dengan mata pelajaran lainnya . kemudian bel istirahat berbunyi.  Aeni , Nuri, dan Eca hanya duduk – duduk saja di kelas. Mereka mengobrolkan tentang apakah Aeni bersedia atau tidak mengikuti lomba puisi, hingga berlanjut ke cerita kemarin sore saat Aeni tiba-tiba berlari pulang saat diberikan senyuman oleh Riki. “sudah kalo Riki nyatain cinta sama kamu, terima aja, kamu juga suka dia kaan?” goda Eca pada Aeni. “iya Aeni, sudah saatnya kamu punya pacar kan sudah SMA” Timpal Nuri. Mereka semua tertawa.
Tiba – tiba datang salah seorang teman mereka, Dara, sambil berlari ke kursinya dan menangis. “aku putus asa, aku sudah tak punya semangat lagi!!!” jerit Dara dalam tangisnya sambil menutupi wajah dengan tangannya. Aeni, Nuri , dan dan Eca menghampiri Dara. Aeni duduk di sampingnya, diikuti Nuri dan Eca yang berdiri di samping mereka. “Ada apa , Dara?” tanya Aeni lembut sambil dirangkulnya pundak Dara. Dara tetap menangis. Aeni membujuknya untuk bercerita, tetapi Dara tetap tak mau bercerita. Mereka bertiga diam membiarkan Dara menangis, berharap semua kesedihannya bisa sedikit berkurang dengan tangisannya. Setelah sedikit tenang, Dara mulai berbicara dengan suara yang diselingi sisa tangisannya.
“Aku putus sama pacar aku, aku ga punya semangat lagi” katanya dengan suara parau. “Kamu harus semangat, Dara. Apalagi buat belajar.” Kata Eca. “Tapi orang yang selalu memberi semangat sudah pergi ninggalin aku” kata Dara lagi. Aeni merangkulnya semakin erat. “ Semangat itu benihnya ada di diri kamu , faktor pembangunnya ya bisa macam – macam , seperti pacar kamu itu misalnya. Tapi kalo memang dia yang ngasih kamu semangat, buktinya sekarang kamu malah nangis dan ga semangat. Masih ada hal lain yang bisa bikin kamu semangat, teman – teman kamu atau keluarga misalnya. Ya pokoknya selama kamu masih hidup berarti Allah masih akan kasih kamu semangat, meski tanpa dia. Kan gak mungkin kamu hidup tanpa semangat. Percaya deh!” kata Aeni . “ih so dewasa deh, haha” ledek Eca pada Aeni. Aeni hanya tersipu.
Dara sudah tak menangis lagi, dia berterimakasih pada Aeni dan kedua temannya karena sudah mau mendengarkan curahan hatinya. Kemudian Dara memohon ijin untuk pergi ke toilet. Sedangkan Aeni dan teman – temannya duduk ke kursi masing – masing.
 “Tuh kan, dari pada aku harus pacaran mending gausah. Malah bikin galau. Takut kehilangan semangat kaya Dara karena pasti ujungnya putus, hehe” kata Aeni. “kalo memang aku suka sama orang mending aku salurin aja rasanya jadi puisi.” Tambahnya lagi. “hem dasar penyair haha” ledek Eca sambil tertawa. Aeni mengeluarkan sebuah buku kumpulan syair puisi karya Chairil Anwar. “nih, liat karya Bang Chairil, puisi – puisinya kebanyakan berasal dari perasaan yang dia rasain sendiri, hasilnya keren – keren, dikenal banyak orang” jelas Aeni pada kedua temannya itu.
Aeni berpikir daripada dia harus menghabiskan waktunya untuk berpacaran dan nanti harus berujung seperti Dara, meski memang diluar dari itu pacaran juga tidak ada pentingnya, lebih baik dia membuat perasaan yang dia punya menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan prestasi, Prestasi Cinta, karena semuanya berasal dari cinta yang ia rasakan dihatinya. yang lebih bermanfaat. Ya , contohnya dengan menulis puisi. “ngomong – ngomong tentang puisi, aku kan mau mendaftarakan diri buat ikut lomba puisi”kata Aeni. Dia berjalan ke luar kelas diikuti kedua temannya menuju ruang guru .

Aeni mendaftarkan dirinya dalam lomba puisi. Esok lusa dia mengirimkan puisinya yang berjudul “muda berkarya” ke Balai Bahasa Provinsi. Saat pengumuman pemenang diumumkan di acara Bulan bahasa satu minggu kemudian, namanya terpanggil sebagai juara 1 Lomba puisi terbaik kategori siswa SMA.  Dia menerima piala penghargaan serta hadiah dengan hati yang senang.

Thursday, January 14, 2016

Jika Saja Bisa Kembali Eps.3

episode 3



Setelah kejadian tempo hari, kami, santriyyah, lebih memperhatikan lagi jadwal mengaji, jangan sampai ketiduran atau banyak berleha-leha lagi. hari terus benganti, kami tetap dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Sampai pada malam jum’at tak ada jadwal mengaji seperti biasa, tetapi ada marhabaan di mesjid bersama seluruh santri dan warga sekitar. Nah biasanya setelah Marhabaan ini ada muhadhoroh. Dalam Muhadhoroh ini ada yang bertugas sebagai MC, qori’, pembaca sholawat, muthola’ah kitab, dan pembaca sholawat. Untuk yang berperan dalam tugas dibagi setiap minggu. Dalam kegiatan ini antara santriyah dan santri dipisah. Santri melakukan muhadhoroh di mesjid, sedangkan santriyah di kobong.
Semakin ke sini santriyyah bertambah jumlahnya, ada banyak anak tsanawiyyah yang tak bisa aku sebutkan satu persatu namanya, ada juga salah satu santriyyah yang bersekolah di salah satu SMK swasta di Bandung, Nurul namanya, yang kemudian hingga saat ini dia menjadi teman dekatku. Nah kedatangan mereka membuat muhadhoroh menjadi lebih seru. Di sini kami belajar berbicara di depan umum dan berbagi ilmu – ilmu apa saja yang sudah kami dapatkan selama mengaji. Biasanya kami santriyyah muhadhoroh-an di ruangan yang biasa kami pakai untuk bersantai setelah selesai mengaji bersama Bu Dadah.
Selesai muhadhoroh biasanya kami tidur barengan semuanya di ruang tengah kobong atau di kamar Nurul, karena kamarnya cukup luas. Kami tidur berhimpitan, berjejer. Ceritanya sih mau mendengarkan radio Ardhan, karena setiap malam jum’at di radio ini selalu disiarkan cerita – cerita menyeramkan dalam acara Nighmare. Tapi kenyataanya cerita belum dimulai , kami semua sudah tenggelam dalam mimpi masing – masing. Rasanya belum pernah satu kali pun kami berhasil mendengarkan “Nighmare” sampai beres.
Oh iya, kehidupan di kobong bersama mereka ini juga tak lepas dari beberapa masalah. Kadang ada kehilangan barang, ada yang memakai sabun cucinya, meminjam barang tak bilang-bilang, kadang ada yang saling mendiamkan diri, ada yang kesal dengan teman sekamarnya yang jorok lah , tidak rapi lah, tidak melaksanakan piket dengan baik hingga masalah yang datangnya dari luar. Biasanya masalah ini berasal dari kesalahfahaman dan keegoisan masing – masing dari kami tetapi kami tak pernah mempermasalahkan segala sesuatu secara terus – menerus, sebentar kemudian pasti sudah baikan. Bahkan jika ada masalah besar atau masalah pada diri salah seorang santriyah, kami selalu melakukan kumpulan dan bermusyawarah.
Apalagi dulu, kami , yang Aliyah dan lebih besar secara umur dari anak – anak tsanawiyyah, sering sekali menegur mereka, memperingati mereka jika mereka salah. Meski terkadang ada yang tak terima dengan perlakuan kami itu. Tapi ketahuilah oleh kalian adik – adikku, kami hanya sayang kalian, kami hanya ingin kalian menjadikan diri kalian lebih baik lagi (maaf, curhat). Kami semua di sini jauh dari keluarga masing – masing. Maka siapa yang akan mendidik dan mengingatkan saat ada yang berbuat salah? Selain guru yang mengawasi kami di kelas, ataupun lurah santri yang mengatur jadwal dan kegiatan kami. Karena terkadang ada masalah pribadi atau kehidupan pribadi kami yang hanya kamilah yang menjalani dan mengetahuinya, ya otomatis mau tidak mau , suka tidak suka kami harus selalu mengingatkan satu sama lain. Karena kami semua di sini tinggal dalam satu atap, maka mereka adalah saudara dan sahabat terdekat saat di kobong.
Kebersamaan yang tak bisa digambarkan keindahannya, makan bersama, tidur bersama, kadang mencuci bersama, piket bersama, masak bersama. Mengerjakan pr bersama dan membantu adik – adik tsanawiyyah mengerjakan pr. Jika waktu ujian dari sekolah datang, kami semua belajar bersama. Saat kami meluangkan waktu untuk berkumpul kami berbagi cerita tentang kehidupan kami masing-masing, tentang bagaimana kami di sekolah , hingga tentang betapa bahagianya kami di sini bersama memiliki satu sama lain. bahkan seorang adik kami, Aliya, mengatakan bahwa meski di sini kami tak makan, minum dan serba kekurangan (biasanya saat persediaan bekal menipis) kami tetap bahagia, bahkan tak merasa kekurangan. Kami selalu berusaha mencari solusi untuk setiap masalah yang datang menerpa kami, ya agar selalu hidup rukun tentunya.
Waktu terus berjalan membuka lembaran kalender yang tergantung di dinding. Tiba saat satu per satu dari kami meninggalkan kobong karena kami sudah selesai dan lulus dari sekolah kami. Tahun – tahun saat kakak kelasku lulus, kami menangis melepas kepergiannya. Aku dan teman – teman yang satu angkatan denganku menyusul di tahun berikutnya. Ini kadang masa – masa yang berat, melepas kepergian seseorang yang sudah hidup  senang susah, panas hujan, bahagia sengsara, bersama dalam waktu yang cukup lama. Memang begitu hidup di pesantren , kami harus melepaskan dan menyambut santri/santriyyah baru setiap tahunnya.
Beberapa waktu setelah aku lulus sekolah dan berhenti pesantren. Aku masih menyambung komunikasi dengan teman – teman yang sudah lulus juga. Kami membicarakan tentang betapa rindunya kepada masa – masa itu, terutama tentang mengapa kami tak dari awal fokus mengaji karena sekarang setelah tidak mesantren sulit mau menemukan tempat mengaji seperti itu lagi, ditambah dengan kesibukan dan jarak yang tak memungkinkan.

Jika boleh untuk kembali, pada masa – masa itu , aku akan lebih giat mengaji dan hafalan, lebih bersikap baik terhadap yang lain. karena sekarang biar sebesar apapun rinduku, semuanya telah berubah. Untuk kalian yang juga mau atau sedang menuntut ilmu di pesantren atau semacamnya, belajar dan nikmatilah dengan sungguh – sungguh. Tak ada waktu yang akan terulang lagi. Dan aku  yakin, kalian yang pernah mengalami hal yang sama dengan ku, ya kalian para ex. santri/santriyyah, pasti pernah merasakan pahit manis asam pedasnya hidup bersama, dan berharap bisa kembali lagi. ya J