Sudah dua malam setelah aku merasa segalanya baik-baik saja, aku selalu berjalan di bawah langit yang terang. Tidak gelap. Bukan karena aku takut dengan gelap, mungkin sedikit trauma saja.
Aku tidak tau, apa yang difikirkan malam dan hujan tentangku. Bisa jadi tak ada kaitan apa pun, bisa juga mereka membenciku, kan? Dua malam terakhir ini, malam dan hujan seperti bekerja sama untuk mempermalukan ku di hadapan rembulan, aku ditampar habis-habisan oleh hujan dan anginnya yang mengerikan. Kalian lihat? Rupa ku sudah seperti kucing tenggelam di danau! Ya, basah! Tak habis fikir pada malam, kataku dalam hati. Apa salahku hingga habis aku dipermainkannya hanya dalam lama perjalananku menuju gubuk tua di gang-gang sempit.
Sudahlah, cepat tua aku jika terus mendendam pada malam. Aku tidak pernah bisa berdamai dengan malam dan hujan tentunya. Mungkin seorang Fajar hanya mampu berdamai dengan sang Fajar. Ya, Fajar. Kau tahu? Itu si Surya atau kau boleh panggil dia mentari apapun itu sesuka hatimu. Tapi aku heran, bukan kah malam itu katanya indah? bertabur banyak bintang di langitnya. Lalu pada malam ada waktu di mana kita bisa bermunajat dengan Sang Pencipta. Juga dengan hujan, katanya hujan itu berkah! Oke, oke aku percaya semua itu, aku sangat percaya. So, sekarang aku akan tunggu, jika dua malam terakhir ini terjadi lagi padaku pada esok malam, mungkin itu cara hujan dan malam menunjukan cintanya padaku, pada Fajar. Aku merasa sedikit terganggu karena ya kau juga tahu, Fajar dan nama lainnya itu adalah sesuatu yang ada pada saat langit biru terang beriringan dengan awan-awan putih. Oke, aku tunggu bukti cintamu lagi malam! Hujan! -jika memang begitu-