Sore ini udara dingin masuk melalui ventilasi
jendela – jendela kelas, rintik hujan bersahutan dengan angin dan petir.
Menahan seluruh siswa untuk pulang ke rumah mereka masing – masing. Sambil
menunggu hujan reda, Aeni dan dua kawannya, Nuri dan Eca, asik mengobrol tak
memperdulikan teman - temannya yang lain yang sedang bernyanyi-nyanyi bersama
menyaingi suara hujan. Sebentar – sebentar mereka bertiga tertawa, lalu kembali
ribut mengobrol, sesekali berteriak saat ada suara petir menggelegar.
“haha iya katanya di akhir zaman kan jumlah populasi
cowo lebih sedikit dari pada populasi cewe, makanya kita harus mengoleksi pacar
biar ada stok takut nanti kehabisan” celetuk Nuri diikuti tawa kedua temannya.
“ah itu sih kamu saja yang playgirl” timpal Eca. Mendengar obrolan kedua
temannya yang konyol itu Aeni hanya menggelengkan kepala.
Rintik – rintik hujan tidak sederas tadi, tanda –
tanda hujan akan mulai reda. Di bawah gerimis satu persatu siswa di sekolah
membubarkan diri untuk pulang ke rumah. Begitu pula dengan Aeni dan dua
temannya. Mereka berjalan ke luar kelas, dan berhenti di depan pintu. “yang
bawa payung cuma aku ni?” tanya Eca pada kedua temannya itu. Aeni dan Nuri mengangguk. Tiba – tiba seorang
siswa laki-laki bertubuh tegap menghampiri mereka, dan tersenyum. “hai, Riki”
sapa Nuri pada siswa tersebut. Tiba - tiba spontan Aeni berlari - lari keluar gerbang tanpa memperdulikan dirinya
yang basah kehujanan. Riki keheranan. Nuri dan Eca saling berpandangan dan
tertawa – tertawa kecil seakan mengerti terhadap sikap Aeni yang aneh. Akhirnya
mereka bertiga pun juga melangkah pulang ke rumah masing – masing.
***
Suara senandung memecah malam yang sunyi , Aeni
malah sibuk bersenandung, tersipu sambil memandang ke langit – langit kamar.
Aroma – aroma kasmaran bersatu dengan aroma musim penghujan yang melembabkan
tanah dan dedaunan. Sudah dua halaman
penuh puisi yang ditulisnya. Cinta mampu mengubah rasa menjadi untaian kata
yang indah. Begitu pikir Aeni. Ya, cinta yang dia lihat pada senyuman seorang
lelaki pujaannya di sekolah sore tadi.
Malam semakin larut, Aeni tidur bersama lembaran –
lembaran puisinya. Berharap mimpinya akan seindah apa yang ia tulis dari
hatinya. “Inikah yang namanya jatuh cinta, melihat senyumnya saja sampai nervous dan kehujanan” pikir Aeni dalam
hati sebelum kantuk mengantarnya pada tidur tadi.
***
Selasa pagi siswa – siswi SMA Budi Bangsa sudah
berada di kelas dan siap menerima siraman ilmu dari guru mereka. Termasuk Aeni
dan teman – teman sekelasnya. Pelajaran di mulai dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia. Materi yang
di bahas oleh ibu guru hari ini adalah mengenai puisi. Aeni sangat tertarik dan
fokus terhadap apa yang gurunya sampaikan, tentang apa sebenarnya puisi itu,
apa saja jenis – jenisnya, dan juga tokoh – tokoh penting dalam dunia kepuisian.
Dia sangat mencintai puisi dan senang menulisnya, makanya dia sangat penuh
perhatian terhadap materi hari ini. Apalagi saat sang guru memberitahukan bahwa
pemerintah Balai Bahasa Provinsi sedang mengadakan lomba menulis puisi untuk
pelajar jenjang SMP, SMA dan se-derajat. “jika diantara kalian ada yang
berminat mengikuti lomba ini, daftarkan diri kalian kepada ibu . ibu tunggu
hingga besok.” Kata bu guru menjelaskan.
“Aeni , ikutaan aja kamu kan paling jago kalo bikin puisi.” Kata Nuri sambil
menyenggol sikut Aeni. “InsyaAllah, aku
ikutan deh hehe” kata Aeni penuh semangat.
Jam pelajaran selesai , dilanjut dengan mata
pelajaran lainnya . kemudian bel istirahat berbunyi. Aeni , Nuri, dan Eca hanya duduk – duduk saja
di kelas. Mereka mengobrolkan tentang apakah Aeni bersedia atau tidak mengikuti
lomba puisi, hingga berlanjut ke cerita kemarin sore saat Aeni tiba-tiba
berlari pulang saat diberikan senyuman oleh Riki. “sudah kalo Riki nyatain
cinta sama kamu, terima aja, kamu juga suka dia kaan?” goda Eca pada Aeni. “iya
Aeni, sudah saatnya kamu punya pacar kan sudah SMA” Timpal Nuri. Mereka semua
tertawa.
Tiba – tiba datang salah seorang teman mereka, Dara,
sambil berlari ke kursinya dan menangis. “aku putus asa, aku sudah tak punya
semangat lagi!!!” jerit Dara dalam tangisnya sambil menutupi wajah dengan
tangannya. Aeni, Nuri , dan dan Eca menghampiri Dara. Aeni duduk di sampingnya,
diikuti Nuri dan Eca yang berdiri di samping mereka. “Ada apa , Dara?” tanya
Aeni lembut sambil dirangkulnya pundak Dara. Dara tetap menangis. Aeni
membujuknya untuk bercerita, tetapi Dara tetap tak mau bercerita. Mereka
bertiga diam membiarkan Dara menangis, berharap semua kesedihannya bisa sedikit
berkurang dengan tangisannya. Setelah sedikit tenang, Dara mulai berbicara
dengan suara yang diselingi sisa tangisannya.
“Aku putus sama pacar aku, aku ga punya semangat lagi”
katanya dengan suara parau. “Kamu harus semangat, Dara. Apalagi buat belajar.”
Kata Eca. “Tapi orang yang selalu memberi semangat sudah pergi ninggalin aku”
kata Dara lagi. Aeni merangkulnya semakin erat. “ Semangat itu benihnya ada di
diri kamu , faktor pembangunnya ya bisa macam – macam , seperti pacar kamu itu
misalnya. Tapi kalo memang dia yang ngasih kamu semangat, buktinya sekarang
kamu malah nangis dan ga semangat. Masih ada hal lain yang bisa bikin kamu
semangat, teman – teman kamu atau keluarga misalnya. Ya pokoknya selama kamu
masih hidup berarti Allah masih akan kasih kamu semangat, meski tanpa dia. Kan
gak mungkin kamu hidup tanpa semangat. Percaya deh!” kata Aeni . “ih so dewasa
deh, haha” ledek Eca pada Aeni. Aeni hanya tersipu.
Dara sudah tak menangis lagi, dia berterimakasih
pada Aeni dan kedua temannya karena sudah mau mendengarkan curahan hatinya.
Kemudian Dara memohon ijin untuk pergi ke toilet. Sedangkan Aeni dan teman –
temannya duduk ke kursi masing – masing.
“Tuh kan,
dari pada aku harus pacaran mending gausah. Malah bikin galau. Takut kehilangan
semangat kaya Dara karena pasti ujungnya putus, hehe” kata Aeni. “kalo memang
aku suka sama orang mending aku salurin aja rasanya jadi puisi.” Tambahnya
lagi. “hem dasar penyair haha” ledek Eca sambil tertawa. Aeni mengeluarkan
sebuah buku kumpulan syair puisi karya Chairil Anwar. “nih, liat karya Bang
Chairil, puisi – puisinya kebanyakan berasal dari perasaan yang dia rasain
sendiri, hasilnya keren – keren, dikenal banyak orang” jelas Aeni pada kedua
temannya itu.
Aeni berpikir daripada dia harus menghabiskan
waktunya untuk berpacaran dan nanti harus berujung seperti Dara, meski memang
diluar dari itu pacaran juga tidak ada pentingnya, lebih baik dia membuat
perasaan yang dia punya menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan prestasi,
Prestasi Cinta, karena semuanya berasal dari cinta yang ia rasakan dihatinya.
yang lebih bermanfaat. Ya , contohnya dengan menulis puisi. “ngomong – ngomong
tentang puisi, aku kan mau mendaftarakan diri buat ikut lomba puisi”kata Aeni.
Dia berjalan ke luar kelas diikuti kedua temannya menuju ruang guru .
Aeni mendaftarkan dirinya dalam lomba puisi. Esok
lusa dia mengirimkan puisinya yang berjudul “muda berkarya” ke Balai Bahasa
Provinsi. Saat pengumuman pemenang diumumkan di acara Bulan bahasa satu minggu
kemudian, namanya terpanggil sebagai juara 1 Lomba puisi terbaik kategori siswa
SMA. Dia menerima piala penghargaan
serta hadiah dengan hati yang senang.
No comments:
Post a Comment