Tuesday, December 29, 2015

Jika Saja Bisa Kembali Eps.2

Alhamdulillah ada waktu banyaaaak banget untuk menulis lagi :’) maaf rada ngaret untuk posting episode duanya. Langsung sajaa yaa. Check this out!!


Episode 2

***
Kelas bersama Bu Dadah selesai, bersamaan dengan jam istirahat siswa – siswi Tsanawiyyah. Momen yang paling ditunggu, kami selalu ikut sibuk jajan bersama adik – adik tsanawiyyah ini. Apalagi jajanan yang paling favorit adalah martabak “Mang Ade”, sebenarnya martabaknya sederhana saja ya bisa dibilang martabak kw super hehe, tapi yang bikin wah nya adalah sambelnya yang supeeer pedes. Pokoknya nikmat apalagi dipadukan dengan cireng isi yang bentuknya unik – unik itu.
Selesai ikut berjajan ria bersama adik – adik tsanawiyyah , kami kembali ke kobong. Menyimpan kitab dan buku di kamar masing – masing kemudian menyantap jajanan nikmat sederhana ini di salah satu ruangan yang mengahadap ke jendela yang terbuka lebar. Jendela ini menghadap ke gedung sekolah. Dari sini bisa terlihat deretan kelas di sebelah kanan, masjid  di sebelah kiri dan pohon belimbing di depannya. Tempat yang pas untuk santai sambil mengobrol – ngobrol ringan. Bahkan terkadang saat pohon belimbing sedang berbuah, kami memetiknya dari balkon kobong karena jaraknya mudah diraih oleh tangan kami.
Waktu terus bergerak maju, kami mengisi waktu luang dengan kegiatan masing – masing. Hingga saat pukul sebelas siang kami berlomba – lomba mengisi kamar mandi yang hanya ada satu di lantai atas ini. siapa yang duluan masuk, maka dia yang mandi terlebih dahulu. Ya maklum lah kami semua yang tinggal di kobong saat itu adalah siswi Aliyah yang jadwal sekolahnya siang hari setelah anak tsanawiyyah pulang, jadi kami harus mandi sebelum sekolah. Kami bergantian mandi dan bersiap – siap sekolah.
Adzan dzuhur berkumandang, kami melaksanakan sholat. Setelahnya, kami sibuk merapikan diri. Tak lama terdengar suara kaset asmaul husna dari sekolah. Kami bergegas menuruni tangga dan keluar menuju sekolah. Kami langsung mengisi barisan siswi Aliyah  yang berada di samping barisan siswa di lapangan. Tradisi rutin yang dilakukan oleh kami, siswa – siswi Aliyah sebelum masuk kelas adalah membacakan Asmaul Husna. Setelah selesai, kami memasuki kelas masing – masing.
Salah satu kenikmatan anak kobong adalah saat ada buku pelajaran yang tertinggal kami tak perlu gelisah, cukup meluncur ke kobong yang hanya berjarak beberapa langkah dari gedung sekolah, juga jika jam istirahat datang kami bisa menggunakannya untuk kadang – kadang makan di kobong, ya itung – itung mengirit uang bekal hehehe.
Kami pulang dari sekolah pukul lima sore lebih. Lalu para santriyah dan santri yang tinggal di kobong ponpes ini kembali ke kobong masing – masing. Diawal perjalanan kami, para santriyah, di kobong ini kami terlalu berleha – leha setelah pulang sekolah. Istirahat dulu lah, mandi dulu lah, makan dulu lah. Alhasil saat kelas mengaji ba’da maghrib kami kadang terlambat, tetapi alhamdulillah seiring berjalannya waktu kami bisa mengatur waktu dan menghadiri kelas tepat waktu. Kitab yang dikaji adalah kitab safinah, sama seperti ba’da shubuh karena yang mengajarnya pun sama yaitu Pak Dodi. Saat adzan isya berkumandang kelas bersama Pak Dodi selesai. Dilanjut sholat dan kelas selanjutnya bersama Pak Agus. Nah , di kelas Pak Agus ini setiap malamnya berbeda – beda kitab yang dikaji. Ilmu yang dipelajarinya ada tentang nahwu, shorof, riwayat – riwayat dan lain – lain.
jujur saja selama aku mengaji , hal yang paling sulit aku pelajari adalah tentang nahwu dan shorof. Rasanya rumit saja mengingat banyaknya hal yang harus dihafal dan difahami. Apalagi saat mengaji kami santriyah, khususnya aku, selalu mengantuk sampai – sampai tertidur. Hal yang sangaat disesali sampai sekarang. Padahal beliau kalo mengajarkan dan menyampaikan sesuatu selalu disampaikan dengan baik, detail disertai dasar –dasarnya yang jelas. Tetapi entahlah saat mengaji rasanya sesuatu menempel di mata kami. Hingga kami mencoba berbagai cara agar tidak mengantuk, seperti  membawa jajanan ke kelas, menyeduh segelas kopi, ataupun membawa es yang dibeli di warung di dekat ponpes. Tetapi kantuk yang bandel ini tetap saja datang.
Bahkan suatu hari kami mencoba tidur sebentar sebelum kelas dimulai, berharap nanti saat mengaji kami tak merasakan kantuk. Celakanya kami kebablasan.“ Hei, bapak tos aya enggal ka kelas!” (read : hei, bapak sudah ada cepat ke kelas!) terdengar suara Lurah Santri dari bawah dari arah dapur. Kami bangun, dan terkejut melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam. Kami tergesa – gesa menuruni tangga, kami mengenakan mukena waktu itu. Kami bertanya pada Lurah Santri apakah bapak marah atau tidak. Dia hanya tersenyum dan menyuruh kami segera ke kelas.

Saat memasuki kelas, dan duduk di bangku. Benar saja, kami dinasihati bapak. Seharusnya kami bisa menghormati seorang guru, datang lebih awal, lebih rajin lagi ini malah keenakan tidur. Duuh malunya, apalagi kan ada santri di kelas sebelah yang hanya terhalang oleh rolling door dari kelas santriyah. Ketahuan deh kami tukang tidur. Meski sebenarnya bukan sengaja tidur agar meninggalkan kelas. Hoof, percobaan yang gagal. Pelajaran bagi kami saat itu kami tak akan pernah mengulangi hal bodoh ini lagi di kemudian hari.


***

3 comments:

  1. Alhamdulillah, bacaan santai di sela-sela menghadapi sidang. Membayangkan seandainya ada ilustrasi saat memetik belimbing dari balkon kobong, jadi terbayang seperti di buku dongeng2 masa kanak2.. :D
    Lanjut..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, semoga lancar Kang sidangnya :)

      Delete