Thursday, January 14, 2016

Jika Saja Bisa Kembali Eps.3

episode 3



Setelah kejadian tempo hari, kami, santriyyah, lebih memperhatikan lagi jadwal mengaji, jangan sampai ketiduran atau banyak berleha-leha lagi. hari terus benganti, kami tetap dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Sampai pada malam jum’at tak ada jadwal mengaji seperti biasa, tetapi ada marhabaan di mesjid bersama seluruh santri dan warga sekitar. Nah biasanya setelah Marhabaan ini ada muhadhoroh. Dalam Muhadhoroh ini ada yang bertugas sebagai MC, qori’, pembaca sholawat, muthola’ah kitab, dan pembaca sholawat. Untuk yang berperan dalam tugas dibagi setiap minggu. Dalam kegiatan ini antara santriyah dan santri dipisah. Santri melakukan muhadhoroh di mesjid, sedangkan santriyah di kobong.
Semakin ke sini santriyyah bertambah jumlahnya, ada banyak anak tsanawiyyah yang tak bisa aku sebutkan satu persatu namanya, ada juga salah satu santriyyah yang bersekolah di salah satu SMK swasta di Bandung, Nurul namanya, yang kemudian hingga saat ini dia menjadi teman dekatku. Nah kedatangan mereka membuat muhadhoroh menjadi lebih seru. Di sini kami belajar berbicara di depan umum dan berbagi ilmu – ilmu apa saja yang sudah kami dapatkan selama mengaji. Biasanya kami santriyyah muhadhoroh-an di ruangan yang biasa kami pakai untuk bersantai setelah selesai mengaji bersama Bu Dadah.
Selesai muhadhoroh biasanya kami tidur barengan semuanya di ruang tengah kobong atau di kamar Nurul, karena kamarnya cukup luas. Kami tidur berhimpitan, berjejer. Ceritanya sih mau mendengarkan radio Ardhan, karena setiap malam jum’at di radio ini selalu disiarkan cerita – cerita menyeramkan dalam acara Nighmare. Tapi kenyataanya cerita belum dimulai , kami semua sudah tenggelam dalam mimpi masing – masing. Rasanya belum pernah satu kali pun kami berhasil mendengarkan “Nighmare” sampai beres.
Oh iya, kehidupan di kobong bersama mereka ini juga tak lepas dari beberapa masalah. Kadang ada kehilangan barang, ada yang memakai sabun cucinya, meminjam barang tak bilang-bilang, kadang ada yang saling mendiamkan diri, ada yang kesal dengan teman sekamarnya yang jorok lah , tidak rapi lah, tidak melaksanakan piket dengan baik hingga masalah yang datangnya dari luar. Biasanya masalah ini berasal dari kesalahfahaman dan keegoisan masing – masing dari kami tetapi kami tak pernah mempermasalahkan segala sesuatu secara terus – menerus, sebentar kemudian pasti sudah baikan. Bahkan jika ada masalah besar atau masalah pada diri salah seorang santriyah, kami selalu melakukan kumpulan dan bermusyawarah.
Apalagi dulu, kami , yang Aliyah dan lebih besar secara umur dari anak – anak tsanawiyyah, sering sekali menegur mereka, memperingati mereka jika mereka salah. Meski terkadang ada yang tak terima dengan perlakuan kami itu. Tapi ketahuilah oleh kalian adik – adikku, kami hanya sayang kalian, kami hanya ingin kalian menjadikan diri kalian lebih baik lagi (maaf, curhat). Kami semua di sini jauh dari keluarga masing – masing. Maka siapa yang akan mendidik dan mengingatkan saat ada yang berbuat salah? Selain guru yang mengawasi kami di kelas, ataupun lurah santri yang mengatur jadwal dan kegiatan kami. Karena terkadang ada masalah pribadi atau kehidupan pribadi kami yang hanya kamilah yang menjalani dan mengetahuinya, ya otomatis mau tidak mau , suka tidak suka kami harus selalu mengingatkan satu sama lain. Karena kami semua di sini tinggal dalam satu atap, maka mereka adalah saudara dan sahabat terdekat saat di kobong.
Kebersamaan yang tak bisa digambarkan keindahannya, makan bersama, tidur bersama, kadang mencuci bersama, piket bersama, masak bersama. Mengerjakan pr bersama dan membantu adik – adik tsanawiyyah mengerjakan pr. Jika waktu ujian dari sekolah datang, kami semua belajar bersama. Saat kami meluangkan waktu untuk berkumpul kami berbagi cerita tentang kehidupan kami masing-masing, tentang bagaimana kami di sekolah , hingga tentang betapa bahagianya kami di sini bersama memiliki satu sama lain. bahkan seorang adik kami, Aliya, mengatakan bahwa meski di sini kami tak makan, minum dan serba kekurangan (biasanya saat persediaan bekal menipis) kami tetap bahagia, bahkan tak merasa kekurangan. Kami selalu berusaha mencari solusi untuk setiap masalah yang datang menerpa kami, ya agar selalu hidup rukun tentunya.
Waktu terus berjalan membuka lembaran kalender yang tergantung di dinding. Tiba saat satu per satu dari kami meninggalkan kobong karena kami sudah selesai dan lulus dari sekolah kami. Tahun – tahun saat kakak kelasku lulus, kami menangis melepas kepergiannya. Aku dan teman – teman yang satu angkatan denganku menyusul di tahun berikutnya. Ini kadang masa – masa yang berat, melepas kepergian seseorang yang sudah hidup  senang susah, panas hujan, bahagia sengsara, bersama dalam waktu yang cukup lama. Memang begitu hidup di pesantren , kami harus melepaskan dan menyambut santri/santriyyah baru setiap tahunnya.
Beberapa waktu setelah aku lulus sekolah dan berhenti pesantren. Aku masih menyambung komunikasi dengan teman – teman yang sudah lulus juga. Kami membicarakan tentang betapa rindunya kepada masa – masa itu, terutama tentang mengapa kami tak dari awal fokus mengaji karena sekarang setelah tidak mesantren sulit mau menemukan tempat mengaji seperti itu lagi, ditambah dengan kesibukan dan jarak yang tak memungkinkan.

Jika boleh untuk kembali, pada masa – masa itu , aku akan lebih giat mengaji dan hafalan, lebih bersikap baik terhadap yang lain. karena sekarang biar sebesar apapun rinduku, semuanya telah berubah. Untuk kalian yang juga mau atau sedang menuntut ilmu di pesantren atau semacamnya, belajar dan nikmatilah dengan sungguh – sungguh. Tak ada waktu yang akan terulang lagi. Dan aku  yakin, kalian yang pernah mengalami hal yang sama dengan ku, ya kalian para ex. santri/santriyyah, pasti pernah merasakan pahit manis asam pedasnya hidup bersama, dan berharap bisa kembali lagi. ya J

No comments:

Post a Comment