Friday, December 19, 2014

Aku Harus Berdamai dengan Malam

     Sudah dua malam setelah aku merasa segalanya baik-baik saja, aku selalu berjalan di bawah langit yang terang. Tidak gelap. Bukan karena aku takut dengan gelap, mungkin sedikit trauma saja.

     Aku tidak tau, apa yang difikirkan malam dan hujan tentangku. Bisa jadi tak ada kaitan apa pun, bisa juga mereka membenciku, kan? Dua malam terakhir ini, malam dan hujan seperti bekerja sama untuk mempermalukan ku di hadapan rembulan, aku ditampar habis-habisan oleh hujan dan anginnya yang mengerikan. Kalian lihat? Rupa ku sudah seperti kucing tenggelam di danau! Ya, basah! Tak habis fikir pada malam, kataku dalam hati. Apa salahku hingga habis aku dipermainkannya hanya dalam lama perjalananku menuju gubuk tua di gang-gang sempit.

    Sudahlah, cepat tua aku jika terus mendendam pada malam. Aku tidak pernah bisa berdamai dengan malam dan hujan tentunya. Mungkin seorang Fajar hanya mampu berdamai dengan sang Fajar. Ya, Fajar. Kau tahu? Itu si Surya atau kau boleh panggil dia mentari apapun itu sesuka hatimu. Tapi aku heran, bukan kah malam itu katanya indah? bertabur banyak bintang di langitnya. Lalu pada malam ada waktu di mana kita bisa bermunajat dengan Sang Pencipta. Juga dengan hujan, katanya hujan itu berkah! Oke, oke aku percaya semua itu, aku sangat percaya. So, sekarang aku akan tunggu, jika dua malam terakhir ini terjadi lagi padaku pada esok malam, mungkin itu cara hujan dan malam menunjukan cintanya padaku, pada Fajar. Aku merasa sedikit terganggu karena ya kau juga tahu, Fajar dan nama lainnya itu adalah sesuatu yang ada pada saat langit biru terang beriringan dengan awan-awan putih. Oke, aku tunggu bukti cintamu lagi malam! Hujan! -jika memang begitu-

Monday, December 8, 2014

selepas dia pergi, aku kehilangan segalanya

     Kawan, kalian tau cinta? Bukan, bukan Cinta pasangannya Rangga. Ini cinta yang ada di hati, yang kuat bagai kesatria dalam perang badar mungkin lebih kuat dari itu.
Jadi pagi ini, berbulan-bulan setelah cinta pergi, semakin kuat dan yakin hidupku terasa hampa. Apalah artinya jika aku mer asa bahwa aku tak miliki hidup yang normal? Berjalan pun seakan bumi yang ditapaki ini memaki ku dengan keras.

     Tak pernah aku rasakan bahagia lagi seperti dulu saat mentari masih malu-malu menggantung di langit sana. Aku tak pernah lihat dan rasakan lagi cinta itu di dalam hidup dan hati
ku. Dan tak pernah lagi aku melihat sosok terbaik seperti cinta, sekarang ini, di abad melenium ini. Benar-benar melenium, tak ada warna lain kurasa.
Semangatku hangus terbakar mentari, mimpiku hanyut terguyur hujan, bahkan naluri hidupku padam oleh takut yang begitu besar. Begitulah yang ku rasa aku kehilangan segalanya setelah cinta pergi
     Tapi aku yakin, masih ada cinta yang lain di dunia ini yang sama seperti cintaku yang telah tiada, karena aku yakin Tuhan itu adil, akan ada yang menggantikan saat yang lain pergi. Hanya saja belum aku temukan di mana cinta, aku rasa bukan pada tempatku berpijak sekarang. Mungkinkah di sana? Di belahan dunia sana yang tanahnya putih bersih dan dingin, atau di sana? Yang pijakannya halus tapi panas?