Aku
sudah di Bandung, sampai bertemu ya!
begitu pesan yang ku baca di ponselku.
Aku memandang beberapa menit, Ku lihat pesan sebelumnya.
Hi
, apa kabar, Di?
Aku pandangi sms – sms itu, kemudian
berpaling ke kalender yang menggantung di dinding. Tanya menyeruak keluar dari
pikiranku, hatiku gelisah, aku marah. lima tahun lalu tidak sama dengan hari
ini! Kataku dalam hati.
***
Alarm
membangunkanku. Kepalaku berat sekali, malas harus bangun. Jika tak ingat bahwa
aku harus menunaikan sholat shubuh mungkin aku masih akan terus menempel di
atas kasur. aku melangkah ke kamar mandi, aku basuh wajahku lalu aku bercermin
sebelum aku mengambil air wudhu. Kulihat dengan seksama wajahku, aku menatap
jauh ke dalam diriku sendiri, mencoba menerka dan menjawab tanya yang menggantung
dipikiranku sedari malam.
Masihkah
aku ini seperti dulu? Mungkin iya, tapi hati?
Tanyaku dijawab hening, yang memaksa
aku meninggalkan bayanganku di cermin, yang juga ikut menghilang saat aku tak
menghadapnya. Aku ambil air wudhu. Lalu kembali ke kamar.
Beginilah
kasih sayang Tuhan, memberi waktu untuk hati ini mencurahkan isinya hanya
padaNya. Senyap menelusup ke dalam telingaku, yang kudengar hanya isakku
sendiri. Ada bingung yang menjarah damai dalam hatiku. Mungkin ini seharusnya
bahagia, tapi tidak. Aku hanya menikmati waktu dengan melipat tanganku,
berharap do′aku dikabul Tuhan. Selang beberapa menit adzan shubuh berkumandang
memecah sepi, melintang gelombang suaranya membelah langit kota, seperti hendak
menurunkan rahmat Tuhan.
Aku
bangkit, dua roka′at yang jadi penenang jiwa. Aku lipat mukenaku, kemudian ke
luar kamar. aku berjalan ke ruang tamu, menjatuhkan diri ke sofa. Dingin
menusuk tubuhku, aku lipat tangan ke dada. Aku hanya duduk melamun. Tiba – tiba
ibu ke luar dari kamarnya, lalu duduk di sofa panjang di depanku, dia ambil
remote TV, lalu menyalakan TV.
"Diana, nanti anter ibu ke pasar ya!" katanya
"Diana!!" katanya lagi membuyarkan
lamunanku.
"A..apa bu?" kataku.
"Kamu kenapa Diana? Baru jam segini
sudah melamun. Hih, nanti anter ibu ke pasar." kata ibu sambil memandangiku.
Aku hanya mengangguk, kemudian
berdiri. Dan berjalan menuju dapur. Aku membuat dua gelas teh manis panas. Aku
kembali lagi ke ruang Tv.
"Diminum bu" kataku sambil menaruh secangkir
teh di meja di hadapan ibu.
Ibu mengangguk , pandangannya kembali
ke televisi. Sedangkan aku berjalan menuju kamarku.
Aku buka
jendela dan menyingkap gorden. Angin pagi berburu masuk meniup tirai yang tipis.
Di luar sudah agak terang, aku duduk di
sofa mungil di pinggir jendela. Aku tiup teh di dalam gelas, uap
mengepul membelai hangat wajahku. Aku seruput pelan, lalu ku letakan di atas
meja. Aku hanya memandang kosong ke depan, tapi pikiranku masih dipenuhi
bingung dengan pesan yang aku terima tadi malam. Haruskah aku membalasnya?.
Ku lihat seseorang
turun dari motornya lalu membuka pintu pagar rumahku. Lelaki berkaus warna biru
itu kembali ke motornya lalu masuk ke halaman rumahku. Aku kenakan jilbabku
lalu berjalan ke luar, menyambut kedatangannya. Ibu mengikutiku dari belakang.
"Eh,
Salman. Pagi – pagi sudah ke sini. Mau jalan ya sama Diana? Ayo sini masuk dulu
, Diana mah belom mandi, hehe" sapa ibuku pada pemuda yang kini berdiri di
hadapan kami, dia hanya membalasnya dengan senyuman khasnya, yang satu tahun lebih ini menemaniku. Aku pun ikut
tersenyum. Ibu mempersilahkan Salman masuk, mereka duduk di ruang tamu. Aku
kemudian ke dapur, membuatkan secangkir teh tawar hangat kesukaanya. Aku
bergabung dengan mereka di ruang tamu, ku simpan teh tawar itu dihadapannya.
Ibu berdiri meningalkan kami, lalu pindah ke ruang tv.
"Kok ke
sini ga ngasih tau aku dulu sih, mas?" tanyaku padanya.
"Ya,
tadinya mau ngasih kejutan. Tapi kamu ga terkejut ya? Hehe. Jalan yuk, ini kan
hari minggu" katanya kemudian menyeruput teh hangatnya.
"Gabisa
mas, aku mau antar ibu ke pasar. Mas Salman sih ngajak jalan gak bilang dulu" kataku sambil memasang wajah cemberut.
"Iiih
Diana, kalo mau jalan yasudah ga apa – apa. Ibu bisa ke sana sendiri kok!" ibu setengah berteriak
dari ruang televisi.
Salman memandangku
lalu tersenyum. "tuh kan boleh, yuk!"
Aku mandi
dan bersiap – siap. Kemudian kami berpamitan pada ibu. Kami menyusuri minggu
pagi kota Bandung. Kami berhenti di alun – alun kota. Duduk di hamparan rumput
sintetis di halaman depan masjid. Sekitar pukul delapan pagi, tapi sudah ramai
warga kota yang sekedar berjalan – jalan atau duduk di sekitaran masjid. Aku ingat,
dulu, saat aku masih dibalut seragam abu, semua ini tidak seperti ini. Bahkan,
sesorang yang duduk di hadapanku, semua berbeda.
Terik
matahari mulai membakar kulit kami, kami berjalan mencari tempat berteduh
sekaligus mengisi perut kami yang sudah keroncongan sedari tadi. Kami duduk di
lapak penjual bubur, lalu memesan dua porsi bubur.
"Di, tak terasa
ya satu bulan lagi pernikahan kita. Makasih kamu sudah mau nerima mas. Mas bersyukur
bisa memilih kamu" kata Mas Salman yang kemudian menyuap sesendok bubur.
Aku hanya
tersenyum mendengar ucapannya. Ya, pernikahan kami sudah di depan mata. Mas
Salman ini adalah seniorku saat kuliah di Yogyakarta dulu. Kini dia sedang
merintis karirnya di Bandung sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan di
sini. Begitulah takdir Tuhan mempertemukan kami, dulu aku tak begitu dekat
dengannya. Tapi saat aku lulus kuliah dan kembali ke Bandung, aku bertemu
dengannya dalam sebuah kesempatan yang tak pernah di rencanakan, saat aku
sedang melamar di tempatnya bekerja. Berawal dari pertemuan itu, kami jadi
sering berkomunikasi. Setelah satu tahun berjalan, aku dan Mas Salman mulai
memasuki babak yang serius dalam hubungan kami. Dia pulang ke kampung halamannya,
di Yogyakarta. kemudian kembali ke Bandung bersama kedua orangtua dan adiknya
yang masih sekolah di bangku smp. Mereka mendatangi rumahku berkenalan dengan
aku dan ibu, hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Mas Salman memintaku
pada ibu untuk diperistri olehnya. Hari itu, ya tepatnya satu bulan yang lalu,
aku resmi dipinang olehnya.
"Di, kok
makan sambil melamun sih? yuk cepet kita pulang!." suara Mas Salman membuyarkan
ingatanku pada hari itu, kemudian aku buru – buru mengahabiskan buburku. Lalu
kami kembali pulang. jalanan agak macet, penuh dengan kendaraan pribadi, bahkan
berplat nomor luar kota. Klakson
bunyi di mana – mana. Huh, orang – orang tak
sabaran, pikirku dalam hati. Udara sudah sangat panas sekali. Mas Salman
menjalankan motornya dengan cepat mencari kemungkinan celah jalan yang bisa
dimasuki motornya, kami menerobos kemacetan, hingga sampai di rumahku, di
daerah Dago.
Aku turun
dari motornya, tapi Mas Salman langsung menjalankan motornya lagi meninggalkan
rumahku. Ada janji futsal bersama teman kantor katanya. Aku membuka pintu pagar,
lalu berjalan ke dalam. Saat aku masuk , belum sempat aku mengucap salam, Ibu
langsung menghampiriku.
"Sudah
jalan – jalannya? Salman mana?" kata ibu sambil celingak – celingkuk meliahat ke
luar.
"Hmm ibu ,
Assalamu′alaikum ibuuu. Mas Salman sudah duluan, mau futsal, Nanti malem ke
sini lagi kok." jawabku pada ibu.
Ibu
tertawa kecil. "Eh iya wa′alaikumussalam. Eh, Di, tadi Adi ke sini! nanyain
kamu." kata ibu dengan suara agak pelan.
"Hah?
sekarang mana? ngomong apa aja dia, bu?" tanyaku kaget.
"Sudah
pulang. Katanya dia menghubungi kamu tapi tak di balas terus. Dia ga ngomong
banyak kayaknya sih buru – buru . Nanti kalo sempat katanya dia ke sini lagi" kata ibu. Aku duduk di kursi tamu. Diam sejenak . Aku ingat sms semalam
darinya.
"Hah? balas pesannya kalo sempat? yang benar saja!!" aku agak kesal sekarang.
Aku
berjalan ke kamar, aku tau ibu pasti paham dengan kekesalanku ini. aku
menjatuhkan diriku di atas kasur, aku pandangi langit kamar yang bisu. Tiba –
tiba bayangan tentang masalalu yang entah menyelinap lewat mana masuk melintasi
pikiranku.
Setelah
lima tahun ini, dia harus muncul lagi di sini? ya dia, seseorang yang mengatakan
segala jenis janjinya padaku, yang kemudian semua harapan dan janji yang ia tanamkan
padaku, hilang seperti debu ditiup angin. Yang tadi ibu bilang, tadi Adi ke sini!. yang seketika membuat jantungku berdebar, seperti
gempa menggetarkan pertahananku
Adi. kami
berhubungan sudah sejak kelas tiga SMA, dia berkuliah di universitas yang sama
denganku di Yogyakarta. Meski begitu, kami jarang bertemu karena kesibukan
masing – masing. Hanya saja saat liburan kuliah kami pulang ke Bandung bersama –
sama. Aku akui, Adi orang yang baik, dia seperti alarm pengingat waktu sholat,
makan dan segala hal penting lainnya bagiku. Saat itu dia berjanji akan selalu
di sampingku, mengisi cinta yang hilang dari almarhum ayahku. Tapi saat tahun
pertama kuliah itu, dia pindah bersama keluarganya ke Taiwan. Dia juga
melanjutkan studinya di sana katanya. Kami
menjalani hubungan jarak jauh, dia selalu meyakinkan aku akan selalu
menghubungi aku dan akan kembali untuk menemuiku. Benar saja, Lima bulan pertama sejak kepindahannya ke
Taiwan, kami masih selalu bertukar pesan melalui e-mail, tetapi setelah itu tak
pernah ada satu kabarpun tentang dia, pernah aku mencoba mencari kabarnya yang sedang
berada di negeri Formosa itu. Tapi nihil. Ku hubungi lewat media sosial, e-mail
tak pernah ada balasan. Menghubungiku saja tidak pernah, apalagi datang menemuiku.
Tiga tahun,
aku selalu menunggunya, menolak siapapun yang datang padaku. Tapi aku mulai
berpikir mungkin saja dia memiliki kehidupan lain di sana yang membuatnya melupakan harapan dan janjinya
kepadaku bahkan tanpa sebuah katapun dia menghilang dari hidupku, meninggalkan
jejak kenangannya saja, membuat rindu dalam penantianku tak berbalas. Dengan
dorongan dari ibu dan sahabatku akhirnya aku mulai menutup masalaluku, mencoba
menghapus namanya dari hatiku. Sakit dan berat memang, tapi aku harus bisa. Kemudian,
Tuhan mendekatkan aku dengan Mas Salman. Tapi, kini saat aku sudah akan diikat
oleh tali penikahan dengan Mas Salman, dia datang membuka kembali masalalu yang
sudah susah payah aku tutup.
Kamu ke mana saja, Adi? tiga tahun aku
menunggu kamu. Bisikku dalam hati, Air mata lembut mengalir di pipiku. Masalalu
menarikku, mengobrak abrik hatiku sekarang. Tiba – tiba pintu kamarku terbuka,
ibu masuk duduk di sampingku. kepalaku diusapnya. Aku semakin tenggelam dalam
tangisanku.
"Kenapa
sih Adi harus datang lagi bu? apa dia sengaja mau bikin aku sakit hati, ngebuka
masa lalu aku lagi." kataku
"Diana,
kamu ga usah bingung. Makanya menurut ibu, kamu harus segera hubungi Adi.
bilang saja semuanya, seadanya." kata ibu mencoba menenangkan aku.
Tangisku
agak reda, aku kemudian duduk. Aku pandangi ibuku, aku peluk dia.
***
Hujan
turun dari sejak sore tadi, mendukung aku untuk tetap merebahkan diri di kasur.
Masih ada sisa tangis siang tadi, mataku sembab. Aku malas beranjak dari kasur,
apalagi harus ke luar kamar. Ibu bahkan berkali – kali menyuruh aku makan, tapi
aku tak selera sedikit pun. Sudah pukul tujuh, aku dengar pintu rumah di ketuk.
Aku tetap di kamar , malas untuk membukanya, mungkin ibu akan membukannya pikirku.
Tapi sudah ketukan ke tiga ibu tak membukanya, mungkin tak terdengar. Aku lalu
bangkit dengan malas, mengenakan jilbabku. Lalu berjalan ke luar kamar.
Aku
buka pintu, seorang lelaki berambut ikal berdiri di hadapanku.
"Diana,
apa kabar? pasti kau sudah tahu dari ibu bahwa aku akan ke mari" katanya dengan
tersenyum, senyum yang bahkan aku sudah mengetahuinya dengan baik.
Adi. jeritku dalam hati. Aku menelan
ludah tak percaya, kesal memenuhi ruang dadaku. Rasanya ingin aku tutup lagi
pintu ini, tapi kemudian ibu datang dan mempesilahkan orang itu masuk dan
duduk. Aku duduk di hadapannya, sedangkan ibu meninggalkan kami berdua. Aku
belum mengatakan apa – apa sejak tadi. Aku diam, menatap ke meja. Kesal masih
menempel padaku. Hanya suara hujan yang aku dengar.
"Diana, aku
minta maaf" katanya memulai obrolan. Dia menarik nafas panjang. "Mungkin kamu
terlalu lama menunggu aku kembali, tapi sumpah aku masih menyimpan cintaku
untukmu. aku sibuk sekali waktu itu. Aku rindu kamu" katanya lagi. Aku masih
diam, sebenarnya dalam hatiku menjerit marah. enak sekali dia bicara semudah itu, dulu aku berat sekali menanggung
rindu yang tak berbalas itu padanya.
"Diana,
aku kembali sekarang untuk memenuhi janjiku. Aku kembali lagi buat kamu." katanya lagi dan kata – kata lainnya lagi yang membuat aku muak, semuanya sama
saja seperti kehampaan yang dia berikan padaku selama tiga tahun itu.
"Adi, aku
juga minta maaf. Janjimu itu sudah aku buang sejak lama. Aku sudah ada yang
meminang." aku mulai angkat bicara. Aku pandang dia, aku gigit bibirku, mencoba
menahan marah dan tangis. Dia menatapku, matanya sayu menyiratkan sedih dalam
dirinya. dia menyandarkan dirinya di kursi. kedua tangannya mengusap kepalanya.
"Dengan
siapa?" Tanya Adi padaku. Aku tak menjawab.
"Ya, tapi
kenapa kamu gak nungguin aku?" Dia menatapku lagi sambil mengerutkan dahi, dia
masih tak percaya dan berusaha meyakinkan bahwa aku tak serius dengan ucapanku.
"Nunggu
kamu? yang gak jelas bagaimana kabarnya? kamu pikir aku ini apa? kamu seenaknya
bilang tunggu?" tangisku mulai meledak.
"Gak ada
satu pun kata dari kamu yang memastikan tentang hubungan kita, tiga tahun aku
di ambang ketidakpastian. Aku sudah buang semuanya, Di. Aku sudah memulai hidup
yang baru, aku akan menikah bulan depan. Untuk apa sekarang kamu datang
mempertanyakan semuanya lagi?" sambungku lagi dengan nada tinggi. Air mata
deras mengalir di pipiku.
"Aku bodoh
, Diana. Aku terlalu sibuk di sana" suara Adi terdengar lemas, bahkan hampir tidak terdengar karena kalah oleh
suara hujan. "Aku minta maaf , Diana membuat kamu resah dalam ketidakpastian
selama itu, aku minta maaf karena aku tidak bisa mempertahankan hubungan kita,
aku minta maaf karena aku masih mencintai kamu. Aku tau ini kesalahan aku. Tapi
sekarang kamu sudah akan menikah, aku tidak akan mengganggu kamu lagi"
Adi
bangkit dari kursi. Dia berjalan menuju pintu "Eh iya, mungkin aku akan kembali
lagi ke Taiwan dalam waktu dekat ini." Katanya sambil membuka pintu. Aku masih menangis di kursiku. Aku pura – pura tak
peduli dia akan pergi. Tapi saat dia berjalan ke luar aku bangkit dan
memanggilnya.
"Adi, Aku
minta maaf!" dia menoleh tersenyum dan mengangguk. Lalu berjalan di tengah
hujan. Terimakasih kau masih rindu padaku,
kau masih cinta padaku. Dulu aku juga begitu. Hingga sekarang aku masih rindu,
tapi tanya menyerbuku apakah kau membalasnya juga? Tanyaku dijawab olehmu malam
ini, tapi Di sekarang aku sudah mencintai orang lain. Kataku dalam hati.
Aku seka air mataku. ku lihat Adi berpapasan dengan Mas Salman di pintu pagar.
Mas Salman tersenyum padanya, dia membalasnya tapi kemudian berlari – lari sebelum
air hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Mas Salman
masuk ke halaman dengan motornya. Lalu setengah berlari menghampiriku.
"Itu siapa
, Di? Tanyanya sambil merapikan rambutnya yang basah.
"Adi" jawabku.