Thursday, March 10, 2016

Adi


Aku sudah di Bandung, sampai bertemu ya!
begitu pesan yang ku baca di ponselku. Aku memandang beberapa menit, Ku lihat pesan sebelumnya.
Hi , apa kabar, Di?
Aku pandangi sms – sms itu, kemudian berpaling ke kalender yang menggantung di dinding. Tanya menyeruak keluar dari pikiranku, hatiku gelisah, aku marah. lima tahun lalu tidak sama dengan hari ini! Kataku dalam hati.
***
Alarm membangunkanku. Kepalaku berat sekali, malas harus bangun. Jika tak ingat bahwa aku harus menunaikan sholat shubuh mungkin aku masih akan terus menempel di atas kasur. aku melangkah ke kamar mandi, aku basuh wajahku lalu aku bercermin sebelum aku mengambil air wudhu. Kulihat dengan seksama wajahku, aku menatap jauh ke dalam diriku sendiri, mencoba menerka dan menjawab tanya yang menggantung dipikiranku sedari malam.
Masihkah aku ini seperti dulu? Mungkin iya, tapi hati?
Tanyaku dijawab hening, yang memaksa aku meninggalkan bayanganku di cermin, yang juga ikut menghilang saat aku tak menghadapnya. Aku ambil air wudhu. Lalu kembali ke kamar.
                Beginilah kasih sayang Tuhan, memberi waktu untuk hati ini mencurahkan isinya hanya padaNya. Senyap menelusup ke dalam telingaku, yang kudengar hanya isakku sendiri. Ada bingung yang menjarah damai dalam hatiku. Mungkin ini seharusnya bahagia, tapi tidak. Aku hanya menikmati waktu dengan melipat tanganku, berharap do′aku dikabul Tuhan. Selang beberapa menit adzan shubuh berkumandang memecah sepi, melintang gelombang suaranya membelah langit kota, seperti hendak menurunkan rahmat Tuhan.
                Aku bangkit, dua roka′at yang jadi penenang jiwa. Aku lipat mukenaku, kemudian ke luar kamar. aku berjalan ke ruang tamu, menjatuhkan diri ke sofa. Dingin menusuk tubuhku, aku lipat tangan ke dada. Aku hanya duduk melamun. Tiba – tiba ibu ke luar dari kamarnya, lalu duduk di sofa panjang di depanku, dia ambil remote TV, lalu menyalakan TV.
"Diana, nanti anter ibu ke pasar ya!" katanya
"Diana!!" katanya lagi membuyarkan lamunanku.
"A..apa bu?" kataku.
"Kamu kenapa Diana? Baru jam segini sudah melamun. Hih, nanti anter ibu ke pasar." kata ibu sambil memandangiku.
Aku hanya mengangguk, kemudian berdiri. Dan berjalan menuju dapur. Aku membuat dua gelas teh manis panas. Aku kembali lagi ke ruang Tv.
"Diminum bu" kataku sambil menaruh secangkir teh di meja di hadapan ibu.
Ibu mengangguk , pandangannya kembali ke televisi. Sedangkan aku berjalan menuju kamarku.
Aku buka jendela dan menyingkap gorden. Angin pagi berburu masuk meniup tirai yang tipis. Di luar sudah agak terang, aku duduk di  sofa mungil di pinggir jendela. Aku tiup teh di dalam gelas, uap mengepul membelai hangat wajahku. Aku seruput pelan, lalu ku letakan di atas meja. Aku hanya memandang kosong ke depan, tapi pikiranku masih dipenuhi bingung dengan pesan yang aku terima tadi malam. Haruskah aku membalasnya?.
Ku lihat seseorang turun dari motornya lalu membuka pintu pagar rumahku. Lelaki berkaus warna biru itu kembali ke motornya lalu masuk ke halaman rumahku. Aku kenakan jilbabku lalu berjalan ke luar, menyambut kedatangannya. Ibu mengikutiku dari belakang.
"Eh, Salman. Pagi – pagi sudah ke sini. Mau jalan ya sama Diana? Ayo sini masuk dulu , Diana mah belom mandi, hehe" sapa ibuku pada pemuda yang kini berdiri di hadapan kami, dia hanya membalasnya dengan senyuman khasnya, yang satu  tahun lebih ini menemaniku. Aku pun ikut tersenyum. Ibu mempersilahkan Salman masuk, mereka duduk di ruang tamu. Aku kemudian ke dapur, membuatkan secangkir teh tawar hangat kesukaanya. Aku bergabung dengan mereka di ruang tamu, ku simpan teh tawar itu dihadapannya. Ibu berdiri meningalkan kami, lalu pindah ke ruang tv.
"Kok ke sini ga ngasih tau aku dulu sih, mas?" tanyaku padanya.
"Ya, tadinya mau ngasih kejutan. Tapi kamu ga terkejut ya? Hehe. Jalan yuk, ini kan hari minggu" katanya kemudian menyeruput teh hangatnya.
"Gabisa mas, aku mau antar ibu ke pasar. Mas Salman sih ngajak jalan gak bilang dulu" kataku sambil memasang wajah cemberut.
"Iiih Diana, kalo mau jalan yasudah ga apa – apa. Ibu bisa  ke sana sendiri kok!" ibu setengah berteriak dari ruang televisi.
Salman memandangku lalu tersenyum. "tuh kan boleh, yuk!"
Aku mandi dan bersiap – siap. Kemudian kami berpamitan pada ibu. Kami menyusuri minggu pagi kota Bandung. Kami berhenti di alun – alun kota. Duduk di hamparan rumput sintetis di halaman depan masjid. Sekitar pukul delapan pagi, tapi sudah ramai warga kota yang sekedar berjalan – jalan atau duduk di sekitaran masjid. Aku ingat, dulu, saat aku masih dibalut seragam abu, semua ini tidak seperti ini. Bahkan, sesorang yang duduk di hadapanku, semua berbeda.
Terik matahari mulai membakar kulit kami, kami berjalan mencari tempat berteduh sekaligus mengisi perut kami yang sudah keroncongan sedari tadi. Kami duduk di lapak penjual bubur, lalu memesan dua porsi bubur.
"Di, tak terasa ya satu bulan lagi pernikahan kita. Makasih kamu sudah mau nerima mas. Mas bersyukur bisa memilih kamu" kata Mas Salman yang kemudian menyuap sesendok bubur.
Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Ya, pernikahan kami sudah di depan mata. Mas Salman ini adalah seniorku saat kuliah di Yogyakarta dulu. Kini dia sedang merintis karirnya di Bandung sebagai seorang akuntan di sebuah perusahaan di sini. Begitulah takdir Tuhan mempertemukan kami, dulu aku tak begitu dekat dengannya. Tapi saat aku lulus kuliah dan kembali ke Bandung, aku bertemu dengannya dalam sebuah kesempatan yang tak pernah di rencanakan, saat aku sedang melamar di tempatnya bekerja. Berawal dari pertemuan itu, kami jadi sering berkomunikasi. Setelah satu tahun berjalan, aku dan Mas Salman mulai memasuki babak yang serius dalam hubungan kami. Dia pulang ke kampung halamannya, di Yogyakarta. kemudian kembali ke Bandung bersama kedua orangtua dan adiknya yang masih sekolah di bangku smp. Mereka mendatangi rumahku berkenalan dengan aku dan ibu, hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Mas Salman memintaku pada ibu untuk diperistri olehnya. Hari itu, ya tepatnya satu bulan yang lalu, aku resmi dipinang olehnya.
"Di, kok makan sambil melamun sih? yuk cepet kita pulang!." suara Mas Salman membuyarkan ingatanku pada hari itu, kemudian aku buru – buru mengahabiskan buburku. Lalu kami kembali pulang. jalanan agak macet, penuh dengan kendaraan pribadi, bahkan berplat nomor luar kota.        Klakson bunyi di mana – mana. Huh, orang – orang tak sabaran, pikirku dalam hati.  Udara sudah sangat panas sekali. Mas Salman menjalankan motornya dengan cepat mencari kemungkinan celah jalan yang bisa dimasuki motornya, kami menerobos kemacetan, hingga sampai di rumahku, di daerah Dago.
Aku turun dari motornya, tapi Mas Salman langsung menjalankan motornya lagi meninggalkan rumahku. Ada janji futsal bersama teman kantor katanya. Aku membuka pintu pagar, lalu berjalan ke dalam. Saat aku masuk , belum sempat aku mengucap salam, Ibu langsung menghampiriku.
"Sudah jalan – jalannya? Salman mana?" kata ibu sambil celingak – celingkuk meliahat ke luar.
"Hmm ibu , Assalamu′alaikum ibuuu. Mas Salman sudah duluan, mau futsal, Nanti malem ke sini lagi kok." jawabku pada ibu.
Ibu tertawa kecil. "Eh iya wa′alaikumussalam. Eh, Di, tadi Adi ke sini! nanyain kamu." kata ibu dengan suara agak pelan.
"Hah? sekarang mana? ngomong apa aja dia, bu?" tanyaku kaget.
"Sudah pulang. Katanya dia menghubungi kamu tapi tak di balas terus. Dia ga ngomong banyak kayaknya sih buru – buru . Nanti kalo sempat katanya dia ke sini lagi" kata ibu. Aku duduk di kursi tamu. Diam sejenak . Aku ingat sms semalam darinya.
"Hah?  balas pesannya kalo sempat? yang benar saja!!" aku agak kesal sekarang.
Aku berjalan ke kamar, aku tau ibu pasti paham dengan kekesalanku ini. aku menjatuhkan diriku di atas kasur, aku pandangi langit kamar yang bisu. Tiba – tiba bayangan tentang masalalu yang entah menyelinap lewat mana masuk melintasi pikiranku.

Setelah lima tahun ini, dia harus muncul lagi di sini? ya dia, seseorang yang mengatakan segala jenis janjinya padaku, yang kemudian semua harapan dan janji yang ia tanamkan padaku, hilang seperti debu ditiup angin. Yang tadi ibu bilang, tadi Adi ke sini!. yang  seketika membuat jantungku berdebar, seperti gempa menggetarkan pertahananku
Adi. kami berhubungan sudah sejak kelas tiga SMA, dia berkuliah di universitas yang sama denganku di Yogyakarta. Meski begitu, kami jarang bertemu karena kesibukan masing – masing. Hanya saja saat liburan kuliah kami pulang ke Bandung bersama – sama. Aku akui, Adi orang yang baik, dia seperti alarm pengingat waktu sholat, makan dan segala hal penting lainnya bagiku. Saat itu dia berjanji akan selalu di sampingku, mengisi cinta yang hilang dari almarhum ayahku. Tapi saat tahun pertama kuliah itu, dia pindah bersama keluarganya ke Taiwan. Dia juga melanjutkan studinya di sana katanya.  Kami menjalani hubungan jarak jauh, dia selalu meyakinkan aku akan selalu menghubungi aku dan akan kembali untuk menemuiku. Benar saja,  Lima bulan pertama sejak kepindahannya ke Taiwan, kami masih selalu bertukar pesan melalui e-mail, tetapi setelah itu tak pernah ada satu kabarpun tentang dia, pernah aku mencoba mencari kabarnya yang sedang berada di negeri Formosa itu. Tapi nihil. Ku hubungi lewat media sosial, e-mail tak pernah ada balasan. Menghubungiku saja tidak pernah, apalagi datang menemuiku.
Tiga tahun, aku selalu menunggunya, menolak siapapun yang datang padaku. Tapi aku mulai berpikir mungkin saja dia memiliki kehidupan lain di sana yang  membuatnya melupakan harapan dan janjinya kepadaku bahkan tanpa sebuah katapun dia menghilang dari hidupku, meninggalkan jejak kenangannya saja, membuat rindu dalam penantianku tak berbalas. Dengan dorongan dari ibu dan sahabatku akhirnya aku mulai menutup masalaluku, mencoba menghapus namanya dari hatiku. Sakit dan berat memang, tapi aku harus bisa. Kemudian, Tuhan mendekatkan aku dengan Mas Salman. Tapi, kini saat aku sudah akan diikat oleh tali penikahan dengan Mas Salman, dia datang membuka kembali masalalu yang sudah susah payah aku tutup.
Kamu ke mana saja, Adi? tiga tahun aku menunggu kamu. Bisikku dalam hati, Air mata lembut mengalir di pipiku. Masalalu menarikku, mengobrak abrik hatiku sekarang. Tiba – tiba pintu kamarku terbuka, ibu masuk duduk di sampingku. kepalaku diusapnya. Aku semakin tenggelam dalam tangisanku.
"Kenapa sih Adi harus datang lagi bu? apa dia sengaja mau bikin aku sakit hati, ngebuka masa lalu aku lagi." kataku
"Diana, kamu ga usah bingung. Makanya menurut ibu, kamu harus segera hubungi Adi. bilang saja semuanya, seadanya." kata ibu mencoba menenangkan aku.
Tangisku agak reda, aku kemudian duduk. Aku pandangi ibuku, aku peluk dia.
***
                Hujan turun dari sejak sore tadi, mendukung aku untuk tetap merebahkan diri di kasur. Masih ada sisa tangis siang tadi, mataku sembab. Aku malas beranjak dari kasur, apalagi harus ke luar kamar. Ibu bahkan berkali – kali menyuruh aku makan, tapi aku tak selera sedikit pun. Sudah pukul tujuh, aku dengar pintu rumah di ketuk. Aku tetap di kamar , malas untuk membukanya, mungkin ibu akan membukannya pikirku. Tapi sudah ketukan ke tiga ibu tak membukanya, mungkin tak terdengar. Aku lalu bangkit dengan malas, mengenakan jilbabku. Lalu berjalan ke luar kamar.
                Aku buka pintu, seorang lelaki berambut ikal berdiri di hadapanku.
"Diana, apa kabar? pasti kau sudah tahu dari ibu bahwa aku akan ke mari" katanya dengan tersenyum, senyum yang bahkan aku sudah mengetahuinya dengan baik.
Adi. jeritku dalam hati. Aku menelan ludah tak percaya, kesal memenuhi ruang dadaku. Rasanya ingin aku tutup lagi pintu ini, tapi kemudian ibu datang dan mempesilahkan orang itu masuk dan duduk. Aku duduk di hadapannya, sedangkan ibu meninggalkan kami berdua. Aku belum mengatakan apa – apa sejak tadi. Aku diam, menatap ke meja. Kesal masih menempel padaku. Hanya suara hujan yang aku dengar.
"Diana, aku minta maaf" katanya memulai obrolan. Dia menarik nafas panjang. "Mungkin kamu terlalu lama menunggu aku kembali, tapi sumpah aku masih menyimpan cintaku untukmu. aku sibuk sekali waktu itu. Aku rindu kamu" katanya lagi. Aku masih diam, sebenarnya dalam hatiku menjerit marah. enak sekali dia bicara semudah itu, dulu aku berat sekali menanggung rindu yang tak berbalas itu padanya.
"Diana, aku kembali sekarang untuk memenuhi janjiku. Aku kembali lagi buat kamu." katanya lagi dan kata – kata lainnya lagi yang membuat aku muak, semuanya sama saja seperti kehampaan yang dia berikan padaku selama tiga tahun itu.
"Adi, aku juga minta maaf. Janjimu itu sudah aku buang sejak lama. Aku sudah ada yang meminang." aku mulai angkat bicara. Aku pandang dia, aku gigit bibirku, mencoba menahan marah dan tangis. Dia menatapku, matanya sayu menyiratkan sedih dalam dirinya. dia menyandarkan dirinya di kursi. kedua tangannya mengusap kepalanya.
"Dengan siapa?" Tanya Adi padaku. Aku tak menjawab.
"Ya, tapi kenapa kamu gak nungguin aku?" Dia menatapku lagi sambil mengerutkan dahi, dia masih tak percaya dan berusaha meyakinkan bahwa aku tak serius dengan ucapanku.
"Nunggu kamu? yang gak jelas bagaimana kabarnya? kamu pikir aku ini apa? kamu seenaknya bilang tunggu?" tangisku mulai meledak.
"Gak ada satu pun kata dari kamu yang memastikan tentang hubungan kita, tiga tahun aku di ambang ketidakpastian. Aku sudah buang semuanya, Di. Aku sudah memulai hidup yang baru, aku akan menikah bulan depan. Untuk apa sekarang kamu datang mempertanyakan semuanya lagi?" sambungku lagi dengan nada tinggi. Air mata deras mengalir di pipiku.
"Aku bodoh , Diana. Aku  terlalu sibuk di sana" suara Adi terdengar lemas, bahkan hampir tidak terdengar karena kalah oleh suara hujan. "Aku minta maaf , Diana membuat kamu resah dalam ketidakpastian selama itu, aku minta maaf karena aku tidak bisa mempertahankan hubungan kita, aku minta maaf karena aku masih mencintai kamu. Aku tau ini kesalahan aku. Tapi sekarang kamu sudah akan menikah, aku tidak akan mengganggu kamu lagi"
Adi bangkit dari kursi. Dia berjalan menuju pintu "Eh iya, mungkin aku akan kembali lagi ke Taiwan dalam waktu  dekat ini." Katanya sambil membuka pintu. Aku masih menangis di kursiku. Aku pura – pura tak peduli dia akan pergi. Tapi saat dia berjalan ke luar aku bangkit dan memanggilnya.
"Adi, Aku minta maaf!" dia menoleh tersenyum dan mengangguk. Lalu berjalan di tengah hujan. Terimakasih kau masih rindu padaku, kau masih cinta padaku. Dulu aku juga begitu. Hingga sekarang aku masih rindu, tapi tanya menyerbuku apakah kau membalasnya juga? Tanyaku dijawab olehmu malam ini, tapi Di sekarang aku sudah mencintai orang lain. Kataku dalam hati. Aku seka air mataku. ku lihat Adi berpapasan dengan Mas Salman di pintu pagar. Mas Salman tersenyum padanya, dia membalasnya tapi kemudian berlari – lari sebelum air hujan membasahi seluruh tubuhnya.
Mas Salman masuk ke halaman dengan motornya. Lalu setengah berlari menghampiriku.
"Itu siapa , Di? Tanyanya sambil merapikan rambutnya yang basah.
"Adi" jawabku.

Wednesday, January 20, 2016

Prestasi Cinta


Sore ini udara dingin masuk melalui ventilasi jendela – jendela kelas, rintik hujan bersahutan dengan angin dan petir. Menahan seluruh siswa untuk pulang ke rumah mereka masing – masing. Sambil menunggu hujan reda, Aeni dan dua kawannya, Nuri dan Eca, asik mengobrol tak memperdulikan teman - temannya yang lain yang sedang bernyanyi-nyanyi bersama menyaingi suara hujan. Sebentar – sebentar mereka bertiga tertawa, lalu kembali ribut mengobrol, sesekali berteriak saat ada suara petir menggelegar.
“haha iya katanya di akhir zaman kan jumlah populasi cowo lebih sedikit dari pada populasi cewe, makanya kita harus mengoleksi pacar biar ada stok takut nanti kehabisan” celetuk Nuri diikuti tawa kedua temannya. “ah itu sih kamu saja yang playgirl” timpal Eca. Mendengar obrolan kedua temannya yang konyol itu Aeni hanya menggelengkan kepala.
Rintik – rintik hujan tidak sederas tadi, tanda – tanda hujan akan mulai reda. Di bawah gerimis satu persatu siswa di sekolah membubarkan diri untuk pulang ke rumah. Begitu pula dengan Aeni dan dua temannya. Mereka berjalan ke luar kelas, dan berhenti di depan pintu. “yang bawa payung cuma aku ni?” tanya Eca pada kedua temannya itu.  Aeni dan Nuri mengangguk. Tiba – tiba seorang siswa laki-laki bertubuh tegap menghampiri mereka, dan tersenyum. “hai, Riki” sapa Nuri pada siswa tersebut. Tiba - tiba spontan Aeni berlari  - lari keluar gerbang tanpa memperdulikan dirinya yang basah kehujanan. Riki keheranan. Nuri dan Eca saling berpandangan dan tertawa – tertawa kecil seakan mengerti terhadap sikap Aeni yang aneh. Akhirnya mereka bertiga pun juga melangkah pulang ke rumah masing – masing.
***
Suara senandung memecah malam yang sunyi , Aeni malah sibuk bersenandung, tersipu sambil memandang ke langit – langit kamar. Aroma – aroma kasmaran bersatu dengan aroma musim penghujan yang melembabkan tanah dan dedaunan.  Sudah dua halaman penuh puisi yang ditulisnya. Cinta mampu mengubah rasa menjadi untaian kata yang indah. Begitu pikir Aeni. Ya, cinta yang dia lihat pada senyuman seorang lelaki pujaannya di sekolah sore tadi.
Malam semakin larut, Aeni tidur bersama lembaran – lembaran puisinya. Berharap mimpinya akan seindah apa yang ia tulis dari hatinya. “Inikah yang namanya jatuh cinta, melihat senyumnya saja sampai nervous dan kehujanan” pikir Aeni dalam hati sebelum kantuk mengantarnya pada tidur tadi.
***
Selasa pagi siswa – siswi SMA Budi Bangsa sudah berada di kelas dan siap menerima siraman ilmu dari guru mereka. Termasuk Aeni dan teman – teman sekelasnya. Pelajaran di mulai dengan  mata pelajaran Bahasa Indonesia. Materi yang di bahas oleh ibu guru hari ini adalah mengenai puisi. Aeni sangat tertarik dan fokus terhadap apa yang gurunya sampaikan, tentang apa sebenarnya puisi itu, apa saja jenis – jenisnya, dan juga tokoh – tokoh penting dalam dunia kepuisian. Dia sangat mencintai puisi dan senang menulisnya, makanya dia sangat penuh perhatian terhadap materi hari ini. Apalagi saat sang guru memberitahukan bahwa pemerintah Balai Bahasa Provinsi sedang mengadakan lomba menulis puisi untuk pelajar jenjang SMP, SMA dan se-derajat. “jika diantara kalian ada yang berminat mengikuti lomba ini, daftarkan diri kalian kepada ibu . ibu tunggu hingga besok.” Kata  bu guru menjelaskan. “Aeni , ikutaan aja kamu kan paling jago kalo bikin puisi.” Kata Nuri sambil menyenggol sikut Aeni.  “InsyaAllah, aku ikutan deh hehe” kata Aeni penuh semangat.
Jam pelajaran selesai , dilanjut dengan mata pelajaran lainnya . kemudian bel istirahat berbunyi.  Aeni , Nuri, dan Eca hanya duduk – duduk saja di kelas. Mereka mengobrolkan tentang apakah Aeni bersedia atau tidak mengikuti lomba puisi, hingga berlanjut ke cerita kemarin sore saat Aeni tiba-tiba berlari pulang saat diberikan senyuman oleh Riki. “sudah kalo Riki nyatain cinta sama kamu, terima aja, kamu juga suka dia kaan?” goda Eca pada Aeni. “iya Aeni, sudah saatnya kamu punya pacar kan sudah SMA” Timpal Nuri. Mereka semua tertawa.
Tiba – tiba datang salah seorang teman mereka, Dara, sambil berlari ke kursinya dan menangis. “aku putus asa, aku sudah tak punya semangat lagi!!!” jerit Dara dalam tangisnya sambil menutupi wajah dengan tangannya. Aeni, Nuri , dan dan Eca menghampiri Dara. Aeni duduk di sampingnya, diikuti Nuri dan Eca yang berdiri di samping mereka. “Ada apa , Dara?” tanya Aeni lembut sambil dirangkulnya pundak Dara. Dara tetap menangis. Aeni membujuknya untuk bercerita, tetapi Dara tetap tak mau bercerita. Mereka bertiga diam membiarkan Dara menangis, berharap semua kesedihannya bisa sedikit berkurang dengan tangisannya. Setelah sedikit tenang, Dara mulai berbicara dengan suara yang diselingi sisa tangisannya.
“Aku putus sama pacar aku, aku ga punya semangat lagi” katanya dengan suara parau. “Kamu harus semangat, Dara. Apalagi buat belajar.” Kata Eca. “Tapi orang yang selalu memberi semangat sudah pergi ninggalin aku” kata Dara lagi. Aeni merangkulnya semakin erat. “ Semangat itu benihnya ada di diri kamu , faktor pembangunnya ya bisa macam – macam , seperti pacar kamu itu misalnya. Tapi kalo memang dia yang ngasih kamu semangat, buktinya sekarang kamu malah nangis dan ga semangat. Masih ada hal lain yang bisa bikin kamu semangat, teman – teman kamu atau keluarga misalnya. Ya pokoknya selama kamu masih hidup berarti Allah masih akan kasih kamu semangat, meski tanpa dia. Kan gak mungkin kamu hidup tanpa semangat. Percaya deh!” kata Aeni . “ih so dewasa deh, haha” ledek Eca pada Aeni. Aeni hanya tersipu.
Dara sudah tak menangis lagi, dia berterimakasih pada Aeni dan kedua temannya karena sudah mau mendengarkan curahan hatinya. Kemudian Dara memohon ijin untuk pergi ke toilet. Sedangkan Aeni dan teman – temannya duduk ke kursi masing – masing.
 “Tuh kan, dari pada aku harus pacaran mending gausah. Malah bikin galau. Takut kehilangan semangat kaya Dara karena pasti ujungnya putus, hehe” kata Aeni. “kalo memang aku suka sama orang mending aku salurin aja rasanya jadi puisi.” Tambahnya lagi. “hem dasar penyair haha” ledek Eca sambil tertawa. Aeni mengeluarkan sebuah buku kumpulan syair puisi karya Chairil Anwar. “nih, liat karya Bang Chairil, puisi – puisinya kebanyakan berasal dari perasaan yang dia rasain sendiri, hasilnya keren – keren, dikenal banyak orang” jelas Aeni pada kedua temannya itu.
Aeni berpikir daripada dia harus menghabiskan waktunya untuk berpacaran dan nanti harus berujung seperti Dara, meski memang diluar dari itu pacaran juga tidak ada pentingnya, lebih baik dia membuat perasaan yang dia punya menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan prestasi, Prestasi Cinta, karena semuanya berasal dari cinta yang ia rasakan dihatinya. yang lebih bermanfaat. Ya , contohnya dengan menulis puisi. “ngomong – ngomong tentang puisi, aku kan mau mendaftarakan diri buat ikut lomba puisi”kata Aeni. Dia berjalan ke luar kelas diikuti kedua temannya menuju ruang guru .

Aeni mendaftarkan dirinya dalam lomba puisi. Esok lusa dia mengirimkan puisinya yang berjudul “muda berkarya” ke Balai Bahasa Provinsi. Saat pengumuman pemenang diumumkan di acara Bulan bahasa satu minggu kemudian, namanya terpanggil sebagai juara 1 Lomba puisi terbaik kategori siswa SMA.  Dia menerima piala penghargaan serta hadiah dengan hati yang senang.

Thursday, January 14, 2016

Jika Saja Bisa Kembali Eps.3

episode 3



Setelah kejadian tempo hari, kami, santriyyah, lebih memperhatikan lagi jadwal mengaji, jangan sampai ketiduran atau banyak berleha-leha lagi. hari terus benganti, kami tetap dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Sampai pada malam jum’at tak ada jadwal mengaji seperti biasa, tetapi ada marhabaan di mesjid bersama seluruh santri dan warga sekitar. Nah biasanya setelah Marhabaan ini ada muhadhoroh. Dalam Muhadhoroh ini ada yang bertugas sebagai MC, qori’, pembaca sholawat, muthola’ah kitab, dan pembaca sholawat. Untuk yang berperan dalam tugas dibagi setiap minggu. Dalam kegiatan ini antara santriyah dan santri dipisah. Santri melakukan muhadhoroh di mesjid, sedangkan santriyah di kobong.
Semakin ke sini santriyyah bertambah jumlahnya, ada banyak anak tsanawiyyah yang tak bisa aku sebutkan satu persatu namanya, ada juga salah satu santriyyah yang bersekolah di salah satu SMK swasta di Bandung, Nurul namanya, yang kemudian hingga saat ini dia menjadi teman dekatku. Nah kedatangan mereka membuat muhadhoroh menjadi lebih seru. Di sini kami belajar berbicara di depan umum dan berbagi ilmu – ilmu apa saja yang sudah kami dapatkan selama mengaji. Biasanya kami santriyyah muhadhoroh-an di ruangan yang biasa kami pakai untuk bersantai setelah selesai mengaji bersama Bu Dadah.
Selesai muhadhoroh biasanya kami tidur barengan semuanya di ruang tengah kobong atau di kamar Nurul, karena kamarnya cukup luas. Kami tidur berhimpitan, berjejer. Ceritanya sih mau mendengarkan radio Ardhan, karena setiap malam jum’at di radio ini selalu disiarkan cerita – cerita menyeramkan dalam acara Nighmare. Tapi kenyataanya cerita belum dimulai , kami semua sudah tenggelam dalam mimpi masing – masing. Rasanya belum pernah satu kali pun kami berhasil mendengarkan “Nighmare” sampai beres.
Oh iya, kehidupan di kobong bersama mereka ini juga tak lepas dari beberapa masalah. Kadang ada kehilangan barang, ada yang memakai sabun cucinya, meminjam barang tak bilang-bilang, kadang ada yang saling mendiamkan diri, ada yang kesal dengan teman sekamarnya yang jorok lah , tidak rapi lah, tidak melaksanakan piket dengan baik hingga masalah yang datangnya dari luar. Biasanya masalah ini berasal dari kesalahfahaman dan keegoisan masing – masing dari kami tetapi kami tak pernah mempermasalahkan segala sesuatu secara terus – menerus, sebentar kemudian pasti sudah baikan. Bahkan jika ada masalah besar atau masalah pada diri salah seorang santriyah, kami selalu melakukan kumpulan dan bermusyawarah.
Apalagi dulu, kami , yang Aliyah dan lebih besar secara umur dari anak – anak tsanawiyyah, sering sekali menegur mereka, memperingati mereka jika mereka salah. Meski terkadang ada yang tak terima dengan perlakuan kami itu. Tapi ketahuilah oleh kalian adik – adikku, kami hanya sayang kalian, kami hanya ingin kalian menjadikan diri kalian lebih baik lagi (maaf, curhat). Kami semua di sini jauh dari keluarga masing – masing. Maka siapa yang akan mendidik dan mengingatkan saat ada yang berbuat salah? Selain guru yang mengawasi kami di kelas, ataupun lurah santri yang mengatur jadwal dan kegiatan kami. Karena terkadang ada masalah pribadi atau kehidupan pribadi kami yang hanya kamilah yang menjalani dan mengetahuinya, ya otomatis mau tidak mau , suka tidak suka kami harus selalu mengingatkan satu sama lain. Karena kami semua di sini tinggal dalam satu atap, maka mereka adalah saudara dan sahabat terdekat saat di kobong.
Kebersamaan yang tak bisa digambarkan keindahannya, makan bersama, tidur bersama, kadang mencuci bersama, piket bersama, masak bersama. Mengerjakan pr bersama dan membantu adik – adik tsanawiyyah mengerjakan pr. Jika waktu ujian dari sekolah datang, kami semua belajar bersama. Saat kami meluangkan waktu untuk berkumpul kami berbagi cerita tentang kehidupan kami masing-masing, tentang bagaimana kami di sekolah , hingga tentang betapa bahagianya kami di sini bersama memiliki satu sama lain. bahkan seorang adik kami, Aliya, mengatakan bahwa meski di sini kami tak makan, minum dan serba kekurangan (biasanya saat persediaan bekal menipis) kami tetap bahagia, bahkan tak merasa kekurangan. Kami selalu berusaha mencari solusi untuk setiap masalah yang datang menerpa kami, ya agar selalu hidup rukun tentunya.
Waktu terus berjalan membuka lembaran kalender yang tergantung di dinding. Tiba saat satu per satu dari kami meninggalkan kobong karena kami sudah selesai dan lulus dari sekolah kami. Tahun – tahun saat kakak kelasku lulus, kami menangis melepas kepergiannya. Aku dan teman – teman yang satu angkatan denganku menyusul di tahun berikutnya. Ini kadang masa – masa yang berat, melepas kepergian seseorang yang sudah hidup  senang susah, panas hujan, bahagia sengsara, bersama dalam waktu yang cukup lama. Memang begitu hidup di pesantren , kami harus melepaskan dan menyambut santri/santriyyah baru setiap tahunnya.
Beberapa waktu setelah aku lulus sekolah dan berhenti pesantren. Aku masih menyambung komunikasi dengan teman – teman yang sudah lulus juga. Kami membicarakan tentang betapa rindunya kepada masa – masa itu, terutama tentang mengapa kami tak dari awal fokus mengaji karena sekarang setelah tidak mesantren sulit mau menemukan tempat mengaji seperti itu lagi, ditambah dengan kesibukan dan jarak yang tak memungkinkan.

Jika boleh untuk kembali, pada masa – masa itu , aku akan lebih giat mengaji dan hafalan, lebih bersikap baik terhadap yang lain. karena sekarang biar sebesar apapun rinduku, semuanya telah berubah. Untuk kalian yang juga mau atau sedang menuntut ilmu di pesantren atau semacamnya, belajar dan nikmatilah dengan sungguh – sungguh. Tak ada waktu yang akan terulang lagi. Dan aku  yakin, kalian yang pernah mengalami hal yang sama dengan ku, ya kalian para ex. santri/santriyyah, pasti pernah merasakan pahit manis asam pedasnya hidup bersama, dan berharap bisa kembali lagi. ya J

Tuesday, December 29, 2015

Jika Saja Bisa Kembali Eps.2

Alhamdulillah ada waktu banyaaaak banget untuk menulis lagi :’) maaf rada ngaret untuk posting episode duanya. Langsung sajaa yaa. Check this out!!


Episode 2

***
Kelas bersama Bu Dadah selesai, bersamaan dengan jam istirahat siswa – siswi Tsanawiyyah. Momen yang paling ditunggu, kami selalu ikut sibuk jajan bersama adik – adik tsanawiyyah ini. Apalagi jajanan yang paling favorit adalah martabak “Mang Ade”, sebenarnya martabaknya sederhana saja ya bisa dibilang martabak kw super hehe, tapi yang bikin wah nya adalah sambelnya yang supeeer pedes. Pokoknya nikmat apalagi dipadukan dengan cireng isi yang bentuknya unik – unik itu.
Selesai ikut berjajan ria bersama adik – adik tsanawiyyah , kami kembali ke kobong. Menyimpan kitab dan buku di kamar masing – masing kemudian menyantap jajanan nikmat sederhana ini di salah satu ruangan yang mengahadap ke jendela yang terbuka lebar. Jendela ini menghadap ke gedung sekolah. Dari sini bisa terlihat deretan kelas di sebelah kanan, masjid  di sebelah kiri dan pohon belimbing di depannya. Tempat yang pas untuk santai sambil mengobrol – ngobrol ringan. Bahkan terkadang saat pohon belimbing sedang berbuah, kami memetiknya dari balkon kobong karena jaraknya mudah diraih oleh tangan kami.
Waktu terus bergerak maju, kami mengisi waktu luang dengan kegiatan masing – masing. Hingga saat pukul sebelas siang kami berlomba – lomba mengisi kamar mandi yang hanya ada satu di lantai atas ini. siapa yang duluan masuk, maka dia yang mandi terlebih dahulu. Ya maklum lah kami semua yang tinggal di kobong saat itu adalah siswi Aliyah yang jadwal sekolahnya siang hari setelah anak tsanawiyyah pulang, jadi kami harus mandi sebelum sekolah. Kami bergantian mandi dan bersiap – siap sekolah.
Adzan dzuhur berkumandang, kami melaksanakan sholat. Setelahnya, kami sibuk merapikan diri. Tak lama terdengar suara kaset asmaul husna dari sekolah. Kami bergegas menuruni tangga dan keluar menuju sekolah. Kami langsung mengisi barisan siswi Aliyah  yang berada di samping barisan siswa di lapangan. Tradisi rutin yang dilakukan oleh kami, siswa – siswi Aliyah sebelum masuk kelas adalah membacakan Asmaul Husna. Setelah selesai, kami memasuki kelas masing – masing.
Salah satu kenikmatan anak kobong adalah saat ada buku pelajaran yang tertinggal kami tak perlu gelisah, cukup meluncur ke kobong yang hanya berjarak beberapa langkah dari gedung sekolah, juga jika jam istirahat datang kami bisa menggunakannya untuk kadang – kadang makan di kobong, ya itung – itung mengirit uang bekal hehehe.
Kami pulang dari sekolah pukul lima sore lebih. Lalu para santriyah dan santri yang tinggal di kobong ponpes ini kembali ke kobong masing – masing. Diawal perjalanan kami, para santriyah, di kobong ini kami terlalu berleha – leha setelah pulang sekolah. Istirahat dulu lah, mandi dulu lah, makan dulu lah. Alhasil saat kelas mengaji ba’da maghrib kami kadang terlambat, tetapi alhamdulillah seiring berjalannya waktu kami bisa mengatur waktu dan menghadiri kelas tepat waktu. Kitab yang dikaji adalah kitab safinah, sama seperti ba’da shubuh karena yang mengajarnya pun sama yaitu Pak Dodi. Saat adzan isya berkumandang kelas bersama Pak Dodi selesai. Dilanjut sholat dan kelas selanjutnya bersama Pak Agus. Nah , di kelas Pak Agus ini setiap malamnya berbeda – beda kitab yang dikaji. Ilmu yang dipelajarinya ada tentang nahwu, shorof, riwayat – riwayat dan lain – lain.
jujur saja selama aku mengaji , hal yang paling sulit aku pelajari adalah tentang nahwu dan shorof. Rasanya rumit saja mengingat banyaknya hal yang harus dihafal dan difahami. Apalagi saat mengaji kami santriyah, khususnya aku, selalu mengantuk sampai – sampai tertidur. Hal yang sangaat disesali sampai sekarang. Padahal beliau kalo mengajarkan dan menyampaikan sesuatu selalu disampaikan dengan baik, detail disertai dasar –dasarnya yang jelas. Tetapi entahlah saat mengaji rasanya sesuatu menempel di mata kami. Hingga kami mencoba berbagai cara agar tidak mengantuk, seperti  membawa jajanan ke kelas, menyeduh segelas kopi, ataupun membawa es yang dibeli di warung di dekat ponpes. Tetapi kantuk yang bandel ini tetap saja datang.
Bahkan suatu hari kami mencoba tidur sebentar sebelum kelas dimulai, berharap nanti saat mengaji kami tak merasakan kantuk. Celakanya kami kebablasan.“ Hei, bapak tos aya enggal ka kelas!” (read : hei, bapak sudah ada cepat ke kelas!) terdengar suara Lurah Santri dari bawah dari arah dapur. Kami bangun, dan terkejut melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam. Kami tergesa – gesa menuruni tangga, kami mengenakan mukena waktu itu. Kami bertanya pada Lurah Santri apakah bapak marah atau tidak. Dia hanya tersenyum dan menyuruh kami segera ke kelas.

Saat memasuki kelas, dan duduk di bangku. Benar saja, kami dinasihati bapak. Seharusnya kami bisa menghormati seorang guru, datang lebih awal, lebih rajin lagi ini malah keenakan tidur. Duuh malunya, apalagi kan ada santri di kelas sebelah yang hanya terhalang oleh rolling door dari kelas santriyah. Ketahuan deh kami tukang tidur. Meski sebenarnya bukan sengaja tidur agar meninggalkan kelas. Hoof, percobaan yang gagal. Pelajaran bagi kami saat itu kami tak akan pernah mengulangi hal bodoh ini lagi di kemudian hari.


***

Thursday, October 22, 2015

Jika Saja Bisa Kembali

Meminta ijin pada kawan dan kalian tokoh-tokoh pengisi ruang indah di hidupku di masa kemarin. Sedikit untuk mengenang masa lalu , juga untuk merajut rindu lewat cerita yang sebenarnya tidak lebih seru dari true story-nya. selamat menikmati kawan-kawan , semoga ada manfaat yang bisa diambil darinya


episode 1

***
            Mari kita sedikit mengenang masa sekitar dua atau tiga tahun silam, saat pemahamanku tentang agama masih sangat dangkal (sekarangpun begitu). Saat bagaimana aku melangkahkan kaki dari rumah dengan segala barang-barang penting di dalam hidupku, ini bukan kabur dari rumah tetapi untuk hal yang mulia (aamiin). Melepas segala hal menyenangkan di rumah, untuk menuju ke sana , mencari ilmu yang kemudian akan banyak membawa perubahan di dalam hidupku.
            Bapak mengantarkan aku hingga ke tangan guruku, menitipkan aku untuk disiraminya ilmu. Nasihati saja bila nakal, katanya pada sang guru. Ibu pun begitu, lewat pesan singkat  mendukung niat putrinya membumi di tempat yang kelak akan mempertemukan aku dengan banyak hikmah.
Maka saat pertama aku menyadari bahwa tulisan Pondok Pesantren Asy-syarifiyyah begitu indah tertulis di depan gang yang aku masuki. Bukan hanya aku yang baru saja menginjakan kaki di sana, dan mulai merapikan barang-barang pribadi. Tetapi juga teman-temanku yang lain yang juga memiliki niat yang sama denganku.
Malam pertama, kami menempati kamar masing-masing yang sudah disepakati, waktu itu aku ditempatkan dengan dua temanku –Risma dan Khalimah-  dalam satu kamar. kobong. Begitulah kami menamai kamar-kamar ini. Tentu saja satu bangunan ini hanya terdiri atas kamar-kamar untuk santri perempuan (santriyah) , ada enam ruang kamar di atas, dan satu kamar di bawah. Kobong ini juga satu bangunan dengan rumah ibu dan bapak pengurusnya. Sedangkan untuk kobong santri laki-laki ada di bangunan lain yang terhalang oleh mesjid dari kobong santriyah.
Malam itu aku dan dua teman sekamarku tidur di kamar lain yang ditempati oleh dua temanku yang lain –Sumarni dan Nursiti-.  Terlalu singkat untuk kami lewati dengan banyak cerita kehidupan kami masing-masing. Hingga larut malam sudah berjilid-jilid cerita saling kami bagikan. Lalu malam setelahnya mulai ada tangis yang ditawan oleh rindu. Rindu akan bapak dan ibu yang mungkin berdo’a agar putri-putrinya ini sehat sentosa. Rindu masakan yang setiap hari baunya memenuhi ruang makan di rumah. Mungkin juga rindu televisi atau hal-hal lain di rumah yang tak kita dapati di sini. “ini sedikit dari cobaan menuntut ilmu , dulu juga teteh nangis kangen mama” begitu kata Teh Milly, salah satu senior kami. Ya senior atau kata yang paling baik yang aku berikan untuk mereka kakak-kakak yang mengiringi masa-masaku di sana –ada Teh Hani, Teh Nurul dan juga Teh Irna-, yang mengingatkan aku dan teman-teman, mengajarkan hal-hal yang belum ku ketahui dan banyak lagi. Saat itu jumlah santri perempuan masih sedikit, hanya sekitar delapan orang santriyah, karena setelah beberapa tahun kobong untuk santriyah baru dibuka lagi.
Satu minggu berlalu, kami mulai bisa mengatasi radang-radang rindu yang bersarang disetiap hati dari kami. Jadwal mengaji sudah menunggu setiap hari-hari kami. Setiap shubuh waktu itu diisi dengan mengaji setelah sholat. Jadwal mengaji setiap selepas sholat shubuh ini dilakukan di kelas , di bangunan sekolah Aliyah-Tsanawiyah, karena memang pondok pesantren dan sekolah formal ini satu yayasan. Kitab safinah yang kami pelajari saat itu, melogat atau memberi syakal, pemenggalan kata dan penerjemahan pada aksara arab yang tertulis di kitab tersebut yang dilanjutkan penjelasan dari guru kami , Pak Dodi. Rasa kantuk yang menyerang mataku yang belum terbiasa mengaji selepas shubuh tak bisa ditahan lagi, jujur saja aku tidak fokus terhadap apa yang disampaikan guru pada kami saat itu. Sesuatu yang akan sangat disesali di masa mendatang.
 Matahari merangkak naik beberapa derajat dari bagian timur bumi, kami melaksanakan piket bersama karena saat itu belum ada jadwal yang sudah diresmikan. Bagian yang sangat aku sukai saat itu hingga nanti ke depan adalah mencuci piring. Yang lain ada yang menyapu, mengepel, masak dan mengelap jendela di bawah. Piket yang sangat menyenangkan seperti sedang berlatih menjadi seorang ibu rumah tangga, hehe...

Waktu dhuha datang, ada jadwal lain menunggu kami di masjid. Salah satu guru favoritku, Ibu Dadah, siap membagi ilmunya pada santri-santrinya ini. Biasanya kami mengawali dengan tadarus Al-qur’an, saling memeperhatikan saat ada yang membaca takut-takut jika ada bacaan yang salah. Di lanjut dengan mengaji kitab hidayatusalikin, kitab beraksara arab pegon dan berbahasa melayu, sungguh dulu lidah ini kaku sekali membacanya. Dimulai dengan mengikuti ibu membaca, lalu membaca ulang secara bergiliran. Kami yang baru-baru ini masih terbata-bata seperti mengeja, terkesan seperti baru belajar membaca. Terkadang kami kesulitan membaca setiap kata yang tidak begitu jelas aksaranya. Tapi setelah sekian lama akhirnya kami terbiasa membacanya, bahkan dibaca dalam bahasa sunda pun bisa dikatakan cukup lancar. Selesai membaca secara bergiliran, ibu menjelaskan setiap hal yang tertulis dikitab tersebut, yang sangat aku ingat hingga sekarang, mengenai orang yang mencari ilmu, bahwa ikan-ikan dilautan pun mendo’akan mereka yang sedang menuntut ilmu, masyaAllah. Akhir majelis ta’lim ini , ibu biasanya memberi sedikit ceramah dan obrolan ringan yang tentunya bermanfaat. Katanya orang yang sedang menuntut ilmu dengan niat yang benar dan baik, diamnya di kobong atau pesantren saja sudah menjadi pahala, ya ibarat jika mereka yang tinggal di rumah dan berjalan ke majelis ta’lim, setiap langkahnya adalah pahala bukan? 

****

Tunggu episode selanjutnya , terima kritik dan saran :)

Tuesday, September 8, 2015

Kasono ti Jatinangor

Unggal peuting minuhan katineung
Basa raga can napak di bumi Jatinangor
Sakalina reumbay cimata
Kadua kalina ukur cukclak
Unggal usik aya nu ngusik
Kasono nu pasesedek na jero haté
Basa dihudangkeun saré ku ema
Basa dijajap sakola ku apa.
Unggal dina pangsujudan peuting
Mangbeungkeut-beungkeut do'a hiber ka langit
Nu ka Garut, ka Sumatera, ka Sukabumi
Diharéwoskeun ngaliwatan kaasih Gusti
Tah, kasono ditiupkeun
Diubaran ku kaikhlasan
Dirépéhan ku élmu
Ké mulang mawa cahaya

Jatinangor, 2 September

Sunday, August 9, 2015

Bu, titip rindu buat bapak.

The first story ni, lagi pengen nulis cerpen. Semoga bermanfaat ya :) selamat membaca teman-teman:)

Sebagai seorang siswi Sekolah Mengengah Pertama sudah seharusnya aku berangkat pagi senin ini, bersiap menjelajah dunia dengan ilmu di sekolah. Bagaimana tidak? Teori seorang tokoh yang berasal dari bumi Eropa sana bisa aku pelajari dengan bersekolah. seperti biasa mobil angkot yang aku tumpangi melewati jalan-jalan yang mengantarkanku pada gerbang sekolah. Aku anggap saja perjalanan ini sebagai santapan sebelum bergelut dengan pelajaran di sekolah. Selalu ada citcitcuit suara burung yang berorkestra dengan klakson-klakson kendaraan di jalanan. Belum lagi suguhan musisi jalanan yang membuat pagi semakin ramai disetiap perempatan jalan. Santapan yang nikmat. Tak peduli apa pendapat kalian, tapi menurutku begitu.
Aku sampai pada gerbang sekolah, kulihat teman-temanku yang aku kenal dan yang tidak kukenal masuk ke gerbang sekolah. Begitu pun dengan adik-adik kelasku yang kukenal maupun yang tak kukenal. Aku terlalu baper (bawa perasaan) pagi ini melihat mereka yang diantarkan oleh bapak mereka ke sekolah, menciumi tangannya seraya meminta do’a dan semangat darinya, sedih rasanya. Kadang aku berfikir, bolehkah aku merasa iri? Pada mereka yang masih bisa menciumi tangan Bapaknya. Maaf, tapi kurasa ini bukan iri. Hanya rinduku saja pada bapak.
***
“Tari, bagaimana ibumu sudah sehat?” tanya salah seorang teman padaku sambil mendudukan dirinya di bangku sebelahku.
“masih harus dirawat, malah katanya kalo begini terus harus masuk ruang ICU.” Jawabku. Temanku yang bernama Nanda ini merangkulku mengisyaratkan aku untuk terus bersabar. Aku tahu aku harus tetap sabar dan fokus terhadap belajarku, apalagi akhir-akhir ini disibukkan dengan persiapan Ujian Nasional. Terimakasih Nanda.
***
Pukul 13.00 siang, aku pulang. Bukan ke rumah melainkan ke rumah sakit tempat ibu dirawat. Ya, sudah hampir sepuluh hari ini ibu terbaring di sana. Berikhtiar agar Allah mengangkat penyakitnya yang sudah semakin parah. Selalu begini , aku menggantikan kakakku di sana menjaga ibu. Karena kakak harus belajar juga di kampusnya. Kasian kakak, kadang dia harus merelakan jam mata kuliah yang terbuang karena tak ada lagi yang bisa meluangkan waktunya untuk menjaga ibu kami. Tapi tak apa-apa, katanya, dia ikhlas.
Aku berjalan menaiki anak tangga yang mengarah pada lantai dua, lalu menyusuri koridor menuju kamar tempat ibu dirawat. Kulihat kakak sudah di depan pintu, menunggu kehadiranku untuk menggantikannya.
“sudah makan belum? Kakak taro roti di meja. Dimakan ya. Kakak berangkat dulu. Assalamu’alaikum.” Katanya sambil tersenyum padaku. Lalu dia meninggalkan aku yang masih berdiri di depan pintu. Selamat belajar calon jurnalis muslimah, kataku dalam hati. Wa’alaikumussalam , juga kataku dalam hati.
Aku masuk ke kamar, kulihat ibu tertidur dengan selang oksigen yang masih terpasang, juga alat infusan. aku melakukan sisa kegiatanku di sana. Mengerjakan tugas, makan, dan sholat. Kakak juga , sepulang kuliah dia kembali ke sini, bukan untuk menggantikanku lagi, tapi sama-sama menjaga ibu di sini. Kami kembali ke rumah hanya untuk mandi, berganti pakaian, ya itupun bergantian. Begini setiap hari.
Kadang, saat aku mendapatkan kesepatan untuk tinggal di rumah semalam, aku hanya bisa melamunkan nasibku. Sepuluh tahun lalu bapak meninggalkan kita, meninggalkan aku yang masih berusia dua tahun waktu itu karena sakit yang dideritanya. Aku tak pernah tahu Bapak seperti apa, kecuali melihatnya pada foto-foto yang dipajang oleh ibu, ataupun pada album foto yang tersimpan rapi di lemari baca. Aku tak tahu rasanya bagaimana berada dalam pelukan bapak, meski kata orang bapak selalu menggendongku setiap pagi mengelilingi komplek perumahan. Tapi itu kata orang, aku tak tahu persis rasanya. Banyak kisah tentang bapak yang aku dengar dari ibu, kakak, ataupun tetangga dan sanak saudara. Kisah yang sangat baik tentunya, yang membuat aku bangga karena telah menjadi anaknya meskipun belum pernah secara sadar meraskan kehadirannya.
Lalu sekarang, ibu yang menjadi orantua bagi aku dan  kakak, terbaring di rumah sakit. Ibu lah yang mengobati rinduku pada bapak selama ini, karena dia lah kekasih bapak. Ibu yang berhasil  mengajarkan kebaikan pada kedua putrinya ini. Dia yang melanjutkan perjuangan dan kasih sayang dari bapak, hanya seorang diri. Dia yang membuat kami merasa terlindungi, merasa tak kekurangan sedikitpun perhatian. Aku tak mau kehilangan dia, yang memiliki hati yang luas untuk mencitai anak-anaknya ini. Sungguh saat-saat seperti ini, membuat aku merasa sendiri. Makanya aku selalu suka dengan keramaian di pagi hari daripada harus sendiri begini. Tapi suatu hari di rumah sakit, ibu bilang kita harus sabar, ini bukti cinta Allah pada MakhlukNya, jika kita merasa berat ujian yang kita hadapi dibandingkan oranglain, berarti itu tanda bahwa Allah tahu kita lebih siap dan lebih kuat dari mereka. Kata ibu , ibu dan Bapak hanyalah penerima titipan yang bertugas menjaga aku dan kakak, yang mengenalkan Allah pada kami, yang mengenalkan agama pada kami. Tentang hidup kami, kamilah yang menjalani, beribadah, berbuat baik pada sesama, mendo’akan ibu dan bapak dan lainnya. Itulah kata-kata yang selalu aku ingat untuk menguatkan aku .
Tapi malam ini, aku dan kakak bersama-sama mendo’akan kesembuhan ibu, membacakan do’a-do’a terbaik untuknya. aku menangis dipangkuan kakakku, dia hanya mengelus rambutku. Dia tidak menangis. aku tahu dia hanya ingin tegar di hadapan adiknya, agar aku tidak semakin merasa sedih.
Hari demi hari berlalu, ku lihat keadaan ibu semakin baik. Hanya ini yang sangat membahagiakan untukku saat ini. Belajar di sekolah pun aku jadi tambah semangat , semoga ibu bisa cepat pulang.
Aku menemui ibu di ruang perawatannya selepas sekolah, ibu sedang membaca al-qur’an. Dia tersenyum melihat kedatanganku. Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“bu, minggu depan aku ujian Nasional. Do’akan aku ya supaya dapat nilai terbaik. Nanti kalo pembagian surat kelulusan ibu yang datang mengambil biar tahu hasil usaha belajarku seperti apa hehe, jadi ibu harus sembuh yaa” kataku pada ibu.
“iya sayang, pasti ibu  do’akan. Semoga anak ibu bisa melaksanakan ujiannya.” Kata ibu sambil tersenyum. Ah sungguh senyum ini yang akan selalu aku rindukan selamanya.
Hari sudah malam. Seperti biasa di malam jum’at ini aku membacakan surat yasin. Kakak belum datang ke sini, mungkin masih ada urusan di kampusnya. Ibu terbaring sambil mendengarkan lantunan ayat suci yang aku bacakan. Tiba-tiba dia mengerang kesakitan, aku sangat kaget. Aku akhiri bacaan qur’anku lalu bergegas memanggil perawat atau dokter atau siapapun yang ada di sana.
Dokter datang , memasangkan alat jantung. Kulihat garis-garis tanda kehidupan di sana, angka 56. Dokter melakukan apa yang dia bisa. Aku berdiri di samping ibu, menguatkannya meski air mata tak terbendung lagi. Aku pun tak tahu apa yang terjadi. Padahal hari ini dia terlihat lebih baik. Aku mendengar ibu mengucapkan “Allahu Akbar” lalu tiba-tiba alat jantung itu hanya menyisakan garis lurus di layarnya. Sungguh pemandangan yang tak bisa aku jelaskan. Dokter merangkul aku yang semakin menangis melihat ibuku yang sekarang sudah tinggal jasadnya saja. Allah ternyata lebih sayang ibu.
Tiba-tiba kakak datang dengan menangis, mungkin ditelpon oleh pihak rumah sakit. Dia memeluk aku. Lalu berjalan mendekati ibu . mengusap wajahnya, menciuminya. Lalu kami hanya terduduk lemas di kursi sambil menunggu pihak rumah sakit mengurus kepulangan ibu ke rumah kami. Kami hubungi sanak saudara kami tentang berita kepergian ibu.
Esok paginya, rumahku sudah ramai dengan para pelayat dan saudara-saudaraku. Orang-orang memandangi aku dan kakak dengan penuh keprihatinan, memeluk kami, seolah-olah menegarkan kami agar tabah dan sabar
Seusai memandikan dan menyolatkan ibu. Kami menuju pemakaman.  Kini ibu sudah terbaring diperistirahatannya. Mengakhiri perjalanannya di dunia. Ku lihat namanya tertanam pada pusaranya. Aku dan kakak masih menangis. orang tua kami satu-satunya kini pergi menyusul Bapak.
Ibu, aku akan rindu semua yang ibu lakukan padaku. Aku dan kakak kini hanya bisa mendo’akanmu. Hanya bisa mengenang. Aku tahu aku ingin ibu cepat pulang ke rumah, tapi Allah sudah terlebih dulu memanggilmu . terimakasih untuk do’a-do’amu yang membuat aku dan kakak menjadi orang yang baik.  Ibu, titip rindu buat Bapak.
Tiba-tiba Nanda datang dan memelukku, seolah-olah menegarkan aku. Ya, aku harus tegar. Terimakasih Nanda.