Thursday, October 22, 2015

Jika Saja Bisa Kembali

Meminta ijin pada kawan dan kalian tokoh-tokoh pengisi ruang indah di hidupku di masa kemarin. Sedikit untuk mengenang masa lalu , juga untuk merajut rindu lewat cerita yang sebenarnya tidak lebih seru dari true story-nya. selamat menikmati kawan-kawan , semoga ada manfaat yang bisa diambil darinya


episode 1

***
            Mari kita sedikit mengenang masa sekitar dua atau tiga tahun silam, saat pemahamanku tentang agama masih sangat dangkal (sekarangpun begitu). Saat bagaimana aku melangkahkan kaki dari rumah dengan segala barang-barang penting di dalam hidupku, ini bukan kabur dari rumah tetapi untuk hal yang mulia (aamiin). Melepas segala hal menyenangkan di rumah, untuk menuju ke sana , mencari ilmu yang kemudian akan banyak membawa perubahan di dalam hidupku.
            Bapak mengantarkan aku hingga ke tangan guruku, menitipkan aku untuk disiraminya ilmu. Nasihati saja bila nakal, katanya pada sang guru. Ibu pun begitu, lewat pesan singkat  mendukung niat putrinya membumi di tempat yang kelak akan mempertemukan aku dengan banyak hikmah.
Maka saat pertama aku menyadari bahwa tulisan Pondok Pesantren Asy-syarifiyyah begitu indah tertulis di depan gang yang aku masuki. Bukan hanya aku yang baru saja menginjakan kaki di sana, dan mulai merapikan barang-barang pribadi. Tetapi juga teman-temanku yang lain yang juga memiliki niat yang sama denganku.
Malam pertama, kami menempati kamar masing-masing yang sudah disepakati, waktu itu aku ditempatkan dengan dua temanku –Risma dan Khalimah-  dalam satu kamar. kobong. Begitulah kami menamai kamar-kamar ini. Tentu saja satu bangunan ini hanya terdiri atas kamar-kamar untuk santri perempuan (santriyah) , ada enam ruang kamar di atas, dan satu kamar di bawah. Kobong ini juga satu bangunan dengan rumah ibu dan bapak pengurusnya. Sedangkan untuk kobong santri laki-laki ada di bangunan lain yang terhalang oleh mesjid dari kobong santriyah.
Malam itu aku dan dua teman sekamarku tidur di kamar lain yang ditempati oleh dua temanku yang lain –Sumarni dan Nursiti-.  Terlalu singkat untuk kami lewati dengan banyak cerita kehidupan kami masing-masing. Hingga larut malam sudah berjilid-jilid cerita saling kami bagikan. Lalu malam setelahnya mulai ada tangis yang ditawan oleh rindu. Rindu akan bapak dan ibu yang mungkin berdo’a agar putri-putrinya ini sehat sentosa. Rindu masakan yang setiap hari baunya memenuhi ruang makan di rumah. Mungkin juga rindu televisi atau hal-hal lain di rumah yang tak kita dapati di sini. “ini sedikit dari cobaan menuntut ilmu , dulu juga teteh nangis kangen mama” begitu kata Teh Milly, salah satu senior kami. Ya senior atau kata yang paling baik yang aku berikan untuk mereka kakak-kakak yang mengiringi masa-masaku di sana –ada Teh Hani, Teh Nurul dan juga Teh Irna-, yang mengingatkan aku dan teman-teman, mengajarkan hal-hal yang belum ku ketahui dan banyak lagi. Saat itu jumlah santri perempuan masih sedikit, hanya sekitar delapan orang santriyah, karena setelah beberapa tahun kobong untuk santriyah baru dibuka lagi.
Satu minggu berlalu, kami mulai bisa mengatasi radang-radang rindu yang bersarang disetiap hati dari kami. Jadwal mengaji sudah menunggu setiap hari-hari kami. Setiap shubuh waktu itu diisi dengan mengaji setelah sholat. Jadwal mengaji setiap selepas sholat shubuh ini dilakukan di kelas , di bangunan sekolah Aliyah-Tsanawiyah, karena memang pondok pesantren dan sekolah formal ini satu yayasan. Kitab safinah yang kami pelajari saat itu, melogat atau memberi syakal, pemenggalan kata dan penerjemahan pada aksara arab yang tertulis di kitab tersebut yang dilanjutkan penjelasan dari guru kami , Pak Dodi. Rasa kantuk yang menyerang mataku yang belum terbiasa mengaji selepas shubuh tak bisa ditahan lagi, jujur saja aku tidak fokus terhadap apa yang disampaikan guru pada kami saat itu. Sesuatu yang akan sangat disesali di masa mendatang.
 Matahari merangkak naik beberapa derajat dari bagian timur bumi, kami melaksanakan piket bersama karena saat itu belum ada jadwal yang sudah diresmikan. Bagian yang sangat aku sukai saat itu hingga nanti ke depan adalah mencuci piring. Yang lain ada yang menyapu, mengepel, masak dan mengelap jendela di bawah. Piket yang sangat menyenangkan seperti sedang berlatih menjadi seorang ibu rumah tangga, hehe...

Waktu dhuha datang, ada jadwal lain menunggu kami di masjid. Salah satu guru favoritku, Ibu Dadah, siap membagi ilmunya pada santri-santrinya ini. Biasanya kami mengawali dengan tadarus Al-qur’an, saling memeperhatikan saat ada yang membaca takut-takut jika ada bacaan yang salah. Di lanjut dengan mengaji kitab hidayatusalikin, kitab beraksara arab pegon dan berbahasa melayu, sungguh dulu lidah ini kaku sekali membacanya. Dimulai dengan mengikuti ibu membaca, lalu membaca ulang secara bergiliran. Kami yang baru-baru ini masih terbata-bata seperti mengeja, terkesan seperti baru belajar membaca. Terkadang kami kesulitan membaca setiap kata yang tidak begitu jelas aksaranya. Tapi setelah sekian lama akhirnya kami terbiasa membacanya, bahkan dibaca dalam bahasa sunda pun bisa dikatakan cukup lancar. Selesai membaca secara bergiliran, ibu menjelaskan setiap hal yang tertulis dikitab tersebut, yang sangat aku ingat hingga sekarang, mengenai orang yang mencari ilmu, bahwa ikan-ikan dilautan pun mendo’akan mereka yang sedang menuntut ilmu, masyaAllah. Akhir majelis ta’lim ini , ibu biasanya memberi sedikit ceramah dan obrolan ringan yang tentunya bermanfaat. Katanya orang yang sedang menuntut ilmu dengan niat yang benar dan baik, diamnya di kobong atau pesantren saja sudah menjadi pahala, ya ibarat jika mereka yang tinggal di rumah dan berjalan ke majelis ta’lim, setiap langkahnya adalah pahala bukan? 

****

Tunggu episode selanjutnya , terima kritik dan saran :)