episode 1
***
Mari kita sedikit mengenang masa
sekitar dua atau tiga tahun silam, saat pemahamanku tentang agama masih sangat
dangkal (sekarangpun begitu). Saat bagaimana aku melangkahkan kaki dari rumah
dengan segala barang-barang penting di dalam hidupku, ini bukan kabur dari
rumah tetapi untuk hal yang mulia (aamiin). Melepas segala hal menyenangkan di
rumah, untuk menuju ke sana , mencari ilmu yang kemudian akan banyak membawa
perubahan di dalam hidupku.
Bapak mengantarkan aku hingga ke
tangan guruku, menitipkan aku untuk disiraminya ilmu. Nasihati saja bila nakal,
katanya pada sang guru. Ibu pun begitu, lewat pesan singkat mendukung niat putrinya membumi di tempat
yang kelak akan mempertemukan aku dengan banyak hikmah.
Maka saat pertama aku menyadari bahwa tulisan Pondok
Pesantren Asy-syarifiyyah begitu indah tertulis di depan gang yang aku masuki. Bukan
hanya aku yang baru saja menginjakan kaki di sana, dan mulai merapikan
barang-barang pribadi. Tetapi juga teman-temanku yang lain yang juga memiliki
niat yang sama denganku.
Malam pertama, kami menempati kamar masing-masing
yang sudah disepakati, waktu itu aku ditempatkan dengan dua temanku –Risma dan
Khalimah- dalam satu kamar. kobong. Begitulah
kami menamai kamar-kamar ini. Tentu saja satu bangunan ini hanya terdiri atas
kamar-kamar untuk santri perempuan (santriyah) , ada enam ruang kamar di atas,
dan satu kamar di bawah. Kobong ini juga satu bangunan dengan rumah ibu dan
bapak pengurusnya. Sedangkan untuk kobong santri laki-laki ada di bangunan lain
yang terhalang oleh mesjid dari kobong santriyah.
Malam itu aku dan dua teman sekamarku tidur di kamar
lain yang ditempati oleh dua temanku yang lain –Sumarni dan Nursiti-. Terlalu singkat untuk kami lewati dengan
banyak cerita kehidupan kami masing-masing. Hingga larut malam sudah berjilid-jilid
cerita saling kami bagikan. Lalu malam setelahnya mulai ada tangis yang ditawan
oleh rindu. Rindu akan bapak dan ibu yang mungkin berdo’a agar putri-putrinya
ini sehat sentosa. Rindu masakan yang setiap hari baunya memenuhi ruang makan
di rumah. Mungkin juga rindu televisi atau hal-hal lain di rumah yang tak kita
dapati di sini. “ini sedikit dari cobaan menuntut ilmu , dulu juga teteh nangis
kangen mama” begitu kata Teh Milly, salah satu senior kami. Ya senior atau kata
yang paling baik yang aku berikan untuk mereka kakak-kakak yang mengiringi
masa-masaku di sana –ada Teh Hani, Teh Nurul dan juga Teh Irna-, yang
mengingatkan aku dan teman-teman, mengajarkan hal-hal yang belum ku ketahui dan
banyak lagi. Saat itu jumlah santri perempuan masih sedikit, hanya sekitar
delapan orang santriyah, karena setelah beberapa tahun kobong untuk santriyah
baru dibuka lagi.
Satu minggu berlalu, kami mulai bisa mengatasi
radang-radang rindu yang bersarang disetiap hati dari kami. Jadwal mengaji
sudah menunggu setiap hari-hari kami. Setiap shubuh waktu itu diisi dengan
mengaji setelah sholat. Jadwal mengaji setiap selepas sholat shubuh ini dilakukan
di kelas , di bangunan sekolah Aliyah-Tsanawiyah, karena memang pondok
pesantren dan sekolah formal ini satu yayasan. Kitab safinah yang kami pelajari
saat itu, melogat atau memberi syakal, pemenggalan kata dan penerjemahan pada
aksara arab yang tertulis di kitab tersebut yang dilanjutkan penjelasan dari
guru kami , Pak Dodi. Rasa kantuk yang menyerang mataku yang belum terbiasa
mengaji selepas shubuh tak bisa ditahan lagi, jujur saja aku tidak fokus
terhadap apa yang disampaikan guru pada kami saat itu. Sesuatu yang akan sangat
disesali di masa mendatang.
Matahari merangkak
naik beberapa derajat dari bagian timur bumi, kami melaksanakan piket bersama
karena saat itu belum ada jadwal yang sudah diresmikan. Bagian yang sangat aku
sukai saat itu hingga nanti ke depan adalah mencuci piring. Yang lain ada yang
menyapu, mengepel, masak dan mengelap jendela di bawah. Piket yang sangat menyenangkan
seperti sedang berlatih menjadi seorang ibu rumah tangga, hehe...
Waktu dhuha datang, ada jadwal lain menunggu kami di
masjid. Salah satu guru favoritku, Ibu Dadah, siap membagi ilmunya pada
santri-santrinya ini. Biasanya kami mengawali dengan tadarus Al-qur’an, saling
memeperhatikan saat ada yang membaca takut-takut jika ada bacaan yang salah. Di
lanjut dengan mengaji kitab hidayatusalikin, kitab beraksara arab pegon dan
berbahasa melayu, sungguh dulu lidah ini kaku sekali membacanya. Dimulai dengan
mengikuti ibu membaca, lalu membaca ulang secara bergiliran. Kami yang
baru-baru ini masih terbata-bata seperti mengeja, terkesan seperti baru belajar
membaca. Terkadang kami kesulitan membaca setiap kata yang tidak begitu jelas
aksaranya. Tapi setelah sekian lama akhirnya kami terbiasa membacanya, bahkan
dibaca dalam bahasa sunda pun bisa dikatakan cukup lancar. Selesai membaca
secara bergiliran, ibu menjelaskan setiap hal yang tertulis dikitab tersebut,
yang sangat aku ingat hingga sekarang, mengenai orang yang mencari ilmu, bahwa
ikan-ikan dilautan pun mendo’akan mereka yang sedang menuntut ilmu, masyaAllah.
Akhir majelis ta’lim ini , ibu biasanya memberi sedikit ceramah dan obrolan
ringan yang tentunya bermanfaat. Katanya orang yang sedang menuntut ilmu dengan
niat yang benar dan baik, diamnya di kobong atau pesantren saja sudah menjadi
pahala, ya ibarat jika mereka yang tinggal di rumah dan berjalan ke majelis ta’lim,
setiap langkahnya adalah pahala bukan?
****
Tunggu episode selanjutnya , terima kritik dan saran :)