episode 3
Setelah
kejadian tempo hari, kami, santriyyah, lebih memperhatikan lagi jadwal mengaji,
jangan sampai ketiduran atau banyak berleha-leha lagi. hari terus benganti,
kami tetap dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Sampai pada malam jum’at tak
ada jadwal mengaji seperti biasa, tetapi ada marhabaan di mesjid bersama seluruh santri dan warga sekitar. Nah
biasanya setelah Marhabaan ini ada muhadhoroh. Dalam Muhadhoroh ini ada yang
bertugas sebagai MC, qori’, pembaca sholawat, muthola’ah kitab, dan pembaca
sholawat. Untuk yang berperan dalam tugas dibagi setiap minggu. Dalam kegiatan
ini antara santriyah dan santri dipisah. Santri melakukan muhadhoroh di mesjid,
sedangkan santriyah di kobong.
Semakin ke sini santriyyah bertambah jumlahnya, ada
banyak anak tsanawiyyah yang tak bisa aku sebutkan satu persatu namanya, ada
juga salah satu santriyyah yang bersekolah di salah satu SMK swasta di Bandung,
Nurul namanya, yang kemudian hingga saat ini dia menjadi teman dekatku. Nah
kedatangan mereka membuat muhadhoroh menjadi lebih seru. Di sini kami belajar
berbicara di depan umum dan berbagi ilmu – ilmu apa saja yang sudah kami
dapatkan selama mengaji. Biasanya kami santriyyah muhadhoroh-an di ruangan yang
biasa kami pakai untuk bersantai setelah selesai mengaji bersama Bu Dadah.
Selesai muhadhoroh biasanya kami tidur barengan
semuanya di ruang tengah kobong atau di kamar Nurul, karena kamarnya cukup
luas. Kami tidur berhimpitan, berjejer. Ceritanya sih mau mendengarkan radio
Ardhan, karena setiap malam jum’at di radio ini selalu disiarkan cerita –
cerita menyeramkan dalam acara Nighmare. Tapi kenyataanya cerita belum dimulai
, kami semua sudah tenggelam dalam mimpi masing – masing. Rasanya belum pernah
satu kali pun kami berhasil mendengarkan “Nighmare” sampai beres.
Oh iya, kehidupan di kobong bersama mereka ini juga
tak lepas dari beberapa masalah. Kadang ada kehilangan barang, ada yang memakai
sabun cucinya, meminjam barang tak bilang-bilang, kadang ada yang saling
mendiamkan diri, ada yang kesal dengan teman sekamarnya yang jorok lah , tidak
rapi lah, tidak melaksanakan piket dengan baik hingga masalah yang datangnya
dari luar. Biasanya masalah ini berasal dari kesalahfahaman dan keegoisan
masing – masing dari kami tetapi kami tak pernah mempermasalahkan segala
sesuatu secara terus – menerus, sebentar kemudian pasti sudah baikan. Bahkan
jika ada masalah besar atau masalah pada diri salah seorang santriyah, kami
selalu melakukan kumpulan dan bermusyawarah.
Apalagi dulu, kami , yang Aliyah dan lebih besar
secara umur dari anak – anak tsanawiyyah, sering sekali menegur mereka,
memperingati mereka jika mereka salah. Meski terkadang ada yang tak terima
dengan perlakuan kami itu. Tapi ketahuilah oleh kalian adik – adikku, kami
hanya sayang kalian, kami hanya ingin kalian menjadikan diri kalian lebih baik
lagi (maaf, curhat). Kami semua di sini jauh dari keluarga masing – masing. Maka
siapa yang akan mendidik dan mengingatkan saat ada yang berbuat salah? Selain
guru yang mengawasi kami di kelas, ataupun lurah santri yang mengatur jadwal
dan kegiatan kami. Karena terkadang ada masalah pribadi atau kehidupan pribadi
kami yang hanya kamilah yang menjalani dan mengetahuinya, ya otomatis mau tidak
mau , suka tidak suka kami harus selalu mengingatkan satu sama lain. Karena
kami semua di sini tinggal dalam satu atap, maka mereka adalah saudara dan
sahabat terdekat saat di kobong.
Kebersamaan yang tak bisa digambarkan keindahannya,
makan bersama, tidur bersama, kadang mencuci bersama, piket bersama, masak
bersama. Mengerjakan pr bersama dan membantu adik – adik tsanawiyyah
mengerjakan pr. Jika waktu ujian dari sekolah datang, kami semua belajar
bersama. Saat kami meluangkan waktu untuk berkumpul kami berbagi cerita tentang
kehidupan kami masing-masing, tentang bagaimana kami di sekolah , hingga
tentang betapa bahagianya kami di sini bersama memiliki satu sama lain. bahkan
seorang adik kami, Aliya, mengatakan bahwa meski di sini kami tak makan, minum
dan serba kekurangan (biasanya saat persediaan bekal menipis) kami tetap
bahagia, bahkan tak merasa kekurangan. Kami selalu berusaha mencari solusi
untuk setiap masalah yang datang menerpa kami, ya agar selalu hidup rukun
tentunya.
Waktu terus berjalan membuka lembaran kalender yang
tergantung di dinding. Tiba saat satu per satu dari kami meninggalkan kobong
karena kami sudah selesai dan lulus dari sekolah kami. Tahun – tahun saat kakak
kelasku lulus, kami menangis melepas kepergiannya. Aku dan teman – teman yang satu
angkatan denganku menyusul di tahun berikutnya. Ini kadang masa – masa yang
berat, melepas kepergian seseorang yang sudah hidup senang susah, panas hujan, bahagia sengsara,
bersama dalam waktu yang cukup lama. Memang begitu hidup di pesantren , kami
harus melepaskan dan menyambut santri/santriyyah baru setiap tahunnya.
Beberapa waktu setelah aku lulus sekolah dan
berhenti pesantren. Aku masih menyambung komunikasi dengan teman – teman yang
sudah lulus juga. Kami membicarakan tentang betapa rindunya kepada masa – masa itu,
terutama tentang mengapa kami tak dari awal fokus mengaji karena sekarang
setelah tidak mesantren sulit mau menemukan tempat mengaji seperti itu lagi,
ditambah dengan kesibukan dan jarak yang tak memungkinkan.
Jika boleh untuk kembali, pada masa – masa itu , aku
akan lebih giat mengaji dan hafalan, lebih bersikap baik terhadap yang lain.
karena sekarang biar sebesar apapun rinduku, semuanya telah berubah. Untuk
kalian yang juga mau atau sedang menuntut ilmu di pesantren atau semacamnya,
belajar dan nikmatilah dengan sungguh – sungguh. Tak ada waktu yang akan
terulang lagi. Dan aku yakin, kalian yang
pernah mengalami hal yang sama dengan ku, ya kalian para ex. santri/santriyyah,
pasti pernah merasakan pahit manis asam pedasnya hidup bersama, dan berharap
bisa kembali lagi. ya J