Alhamdulillah
ada waktu banyaaaak banget untuk menulis lagi :’) maaf rada ngaret untuk
posting episode duanya. Langsung sajaa yaa. Check this out!!
Episode
2
***
Kelas bersama Bu Dadah selesai, bersamaan dengan jam
istirahat siswa – siswi Tsanawiyyah. Momen yang paling ditunggu, kami selalu
ikut sibuk jajan bersama adik – adik tsanawiyyah ini. Apalagi jajanan yang
paling favorit adalah martabak “Mang Ade”, sebenarnya martabaknya sederhana
saja ya bisa dibilang martabak kw super hehe, tapi yang bikin wah nya adalah
sambelnya yang supeeer pedes. Pokoknya nikmat apalagi dipadukan dengan cireng
isi yang bentuknya unik – unik itu.
Selesai ikut berjajan ria bersama adik – adik tsanawiyyah
, kami kembali ke kobong. Menyimpan kitab dan buku di kamar masing – masing kemudian
menyantap jajanan nikmat sederhana ini di salah satu ruangan yang mengahadap ke
jendela yang terbuka lebar. Jendela ini menghadap ke gedung sekolah. Dari sini
bisa terlihat deretan kelas di sebelah kanan, masjid di sebelah kiri dan pohon belimbing di
depannya. Tempat yang pas untuk santai sambil mengobrol – ngobrol ringan. Bahkan
terkadang saat pohon belimbing sedang berbuah, kami memetiknya dari balkon
kobong karena jaraknya mudah diraih oleh tangan kami.
Waktu terus bergerak maju, kami mengisi waktu luang
dengan kegiatan masing – masing. Hingga saat pukul sebelas siang kami berlomba –
lomba mengisi kamar mandi yang hanya ada satu di lantai atas ini. siapa yang
duluan masuk, maka dia yang mandi terlebih dahulu. Ya maklum lah kami semua
yang tinggal di kobong saat itu adalah siswi Aliyah yang jadwal sekolahnya
siang hari setelah anak tsanawiyyah pulang, jadi kami harus mandi sebelum
sekolah. Kami bergantian mandi dan bersiap – siap sekolah.
Adzan dzuhur berkumandang, kami melaksanakan sholat.
Setelahnya, kami sibuk merapikan diri. Tak lama terdengar suara kaset asmaul
husna dari sekolah. Kami bergegas menuruni tangga dan keluar menuju sekolah. Kami
langsung mengisi barisan siswi Aliyah yang berada di samping barisan siswa di lapangan.
Tradisi rutin yang dilakukan oleh kami, siswa – siswi Aliyah sebelum masuk
kelas adalah membacakan Asmaul Husna. Setelah selesai, kami memasuki kelas
masing – masing.
Salah satu kenikmatan anak kobong adalah saat ada
buku pelajaran yang tertinggal kami tak perlu gelisah, cukup meluncur ke kobong
yang hanya berjarak beberapa langkah dari gedung sekolah, juga jika jam
istirahat datang kami bisa menggunakannya untuk kadang – kadang makan di kobong,
ya itung – itung mengirit uang bekal hehehe.
Kami pulang dari sekolah pukul lima sore lebih. Lalu
para santriyah dan santri yang tinggal di kobong ponpes ini kembali ke kobong
masing – masing. Diawal perjalanan kami, para santriyah, di kobong ini kami
terlalu berleha – leha setelah pulang sekolah. Istirahat dulu lah, mandi dulu
lah, makan dulu lah. Alhasil saat kelas mengaji ba’da maghrib kami kadang
terlambat, tetapi alhamdulillah seiring berjalannya waktu kami bisa mengatur
waktu dan menghadiri kelas tepat waktu. Kitab yang dikaji adalah kitab safinah,
sama seperti ba’da shubuh karena yang mengajarnya pun sama yaitu Pak Dodi. Saat
adzan isya berkumandang kelas bersama Pak Dodi selesai. Dilanjut sholat dan
kelas selanjutnya bersama Pak Agus. Nah , di kelas Pak Agus ini setiap malamnya
berbeda – beda kitab yang dikaji. Ilmu yang dipelajarinya ada tentang nahwu,
shorof, riwayat – riwayat dan lain – lain.
jujur saja selama aku mengaji , hal yang paling sulit aku pelajari adalah tentang nahwu dan shorof. Rasanya rumit saja mengingat banyaknya hal yang harus dihafal dan difahami. Apalagi saat mengaji kami santriyah, khususnya aku, selalu mengantuk sampai – sampai tertidur. Hal yang sangaat disesali sampai sekarang. Padahal beliau kalo mengajarkan dan menyampaikan sesuatu selalu disampaikan dengan baik, detail disertai dasar –dasarnya yang jelas. Tetapi entahlah saat mengaji rasanya sesuatu menempel di mata kami. Hingga kami mencoba berbagai cara agar tidak mengantuk, seperti membawa jajanan ke kelas, menyeduh segelas kopi, ataupun membawa es yang dibeli di warung di dekat ponpes. Tetapi kantuk yang bandel ini tetap saja datang.
jujur saja selama aku mengaji , hal yang paling sulit aku pelajari adalah tentang nahwu dan shorof. Rasanya rumit saja mengingat banyaknya hal yang harus dihafal dan difahami. Apalagi saat mengaji kami santriyah, khususnya aku, selalu mengantuk sampai – sampai tertidur. Hal yang sangaat disesali sampai sekarang. Padahal beliau kalo mengajarkan dan menyampaikan sesuatu selalu disampaikan dengan baik, detail disertai dasar –dasarnya yang jelas. Tetapi entahlah saat mengaji rasanya sesuatu menempel di mata kami. Hingga kami mencoba berbagai cara agar tidak mengantuk, seperti membawa jajanan ke kelas, menyeduh segelas kopi, ataupun membawa es yang dibeli di warung di dekat ponpes. Tetapi kantuk yang bandel ini tetap saja datang.
Bahkan suatu hari kami mencoba tidur sebentar
sebelum kelas dimulai, berharap nanti saat mengaji kami tak merasakan kantuk. Celakanya
kami kebablasan.“ Hei, bapak tos aya enggal ka kelas!” (read : hei, bapak sudah
ada cepat ke kelas!) terdengar suara Lurah Santri dari bawah dari arah dapur. Kami
bangun, dan terkejut melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan
malam. Kami tergesa – gesa menuruni tangga, kami mengenakan mukena waktu itu. Kami
bertanya pada Lurah Santri apakah bapak marah atau tidak. Dia hanya tersenyum
dan menyuruh kami segera ke kelas.
Saat memasuki kelas, dan duduk di bangku. Benar saja,
kami dinasihati bapak. Seharusnya kami bisa menghormati seorang guru, datang
lebih awal, lebih rajin lagi ini malah keenakan tidur. Duuh malunya, apalagi
kan ada santri di kelas sebelah yang hanya terhalang oleh rolling door dari kelas santriyah. Ketahuan deh kami tukang tidur. Meski
sebenarnya bukan sengaja tidur agar meninggalkan kelas. Hoof, percobaan yang
gagal. Pelajaran bagi kami saat itu kami tak akan pernah mengulangi hal bodoh
ini lagi di kemudian hari.
***